perubahan bukan soal waktu. perubahan harus diperjuangkan. perubahan harus diusahakan. sebab membiarkan waktu berjalan tanpa mau berbuat apa-apa sama saja menjadikan diri kita seorang pengecut.
Jumat, 04 Maret 2011
Rabu, 16 Februari 2011
Pilihan adalah Kutukan
Saat ini adalah akumulasi pilihan demi pilihan yang pernah kita ambil di masa lalu. Pantas saja Sartre pernah berkata bahwa manusia memang dikutuk untuk membuat pilihan demi pilihan. Tapi, mengapa pilihan dianggap sebagai kutukan? Mengapa bukan anugerah? Entah lah. Tapi memang aku mengamini kutukan itu. Kutukan yang membuat kita, mau tidak mau, suka tidak suka, harus mengambil pilihan, setiap hari, setiap saat. Begitu juga hari ini. Ini adalah keputusan yang tidak bisa diubah, aku telah sampai pada point of no return. Tidak ada jalan kembali. Demi alasan apapun.
Rabu, 15 Desember 2010
Minggu, 05 Desember 2010
Di Antara Prestasi dan Bunuh Diri

Judul Buku : After Orchad
Penulis : Margareta Astaman
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tebal : vi +193 halaman
Cetakan : Pertama, 2010
Singapura menjadi salah satu negara yang menjadi tujuan favorit pelajar Indonesia untuk meneruskan studi di perguruan tinggi. Kualitas pendidikan yang berstandar internasional, biaya yang murah, serta jarak yang relatif dekat menjadi daya tarik tersendiri. Untuk mencapai negeri singa tersebut hanya dibutuhkan waktu penerbangan satu jam dari Jakarta. Tidak hanya itu, kehidupan yang serba teratur juga menjadi alasan lain mengapa banyak yang tertarik kuliah di sana.
Sabtu, 13 November 2010
Kampus dan Solidaritas Sosial
Selalu ada berkah di balik musibah. Bencana alam yang akhir-akhir ini rutin “menyapa” negeri ini memang telah merenggut banyak hal. Banyak nyawa manusia yang menjadi korban, hewan ternak yang mati sia-sia, kerugian materi yang tak terhitung, sampai rasa trauma yang membekas terutama bagi para korban bencana. Namun dibalik itu semua, bencana telah menunjukkan bahwa solidaritas sosial masyarakat Indonesia masih cukup tinggi. Kampus, menjadi salah satu elemen yang ambil bagian dalam solidaritas sosial tersebut. Solidaritas yang muncul di tengah defisit keteladanan dari para pemimpin negeri ini.
Selasa, 12 Oktober 2010
Humanisasi Sepeda Motor
Jangan-jangan kemacetan di jalan yang diakibatkan oleh sepeda motor maupun kendaraan lainnya hanya memberi legitimasi bahwa sebenarnya kebudayaan kita juga sedang mengalami kemacetan.
Apakah anda pernah mengumpat ketika sedang berada di jalan? Atau setidaknya, apakah pernah marah karena melihat perilaku pengguna jalan raya yang sembrono? Saya kira, semua orang yang mendapat pertanyaan ini akan menganggukan kepala tanda setuju. Semakin padat dan macet sebuah jalan, umpatan maupun kemarahan akan muncul dengan otomatis. Bisa jadi, fenomena ini mempertegas adagium yang menjelaskan bahwa jalan merupakan cerminan sebuah peradaban. Kesemrawutan yang muncul di jalan menunjukkan bahwa di saat yang bersamaan kehidupan sosial kita sedang semrawut. Setiap orang dengan ego dan kepentingannya masing-masing seolah berusaha untuk saling menguasai jalan.
Apakah anda pernah mengumpat ketika sedang berada di jalan? Atau setidaknya, apakah pernah marah karena melihat perilaku pengguna jalan raya yang sembrono? Saya kira, semua orang yang mendapat pertanyaan ini akan menganggukan kepala tanda setuju. Semakin padat dan macet sebuah jalan, umpatan maupun kemarahan akan muncul dengan otomatis. Bisa jadi, fenomena ini mempertegas adagium yang menjelaskan bahwa jalan merupakan cerminan sebuah peradaban. Kesemrawutan yang muncul di jalan menunjukkan bahwa di saat yang bersamaan kehidupan sosial kita sedang semrawut. Setiap orang dengan ego dan kepentingannya masing-masing seolah berusaha untuk saling menguasai jalan.
Minggu, 03 Oktober 2010
Ketika Negara Mengatur Rambut

Judul Buku : Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda 1970an
Penulis : Aria Wiratma Yudhistira
Penerbit : Marjin Kiri
Tebal : xxii +161 halaman
Cetakan : Pertama, 2010
Rambut gondrong menjadi musuh awal Orde Baru selain komunisme.
Barangkali banyak yang tidak tahu bahwa gunting pernah menjadi alat utama Orde Baru untuk mengatur rakyatnya sendiri. Anda tak perlu heran. Ya, dalam dekade awal berdirinya rezim ini, kebijakan anti rambut gondrong pernah dikeluarkan pemerintah. Kebijakan yang dibarengi dengan hukum potong rambut di tempat bagi siapapun yang melanggarnya. Buku Aria Wiratman Yudhistira ini mencoba melakukan penelusuran terhadap episode sejarah yang menggelikan sekaligus mengenaskan tersebut.
Awal tahun 1970an menjadi masa yang menyibukkan bagi rezim untuk menyiapkan landasan kekuasaannya. Jargon “ekonomi sebagai panglima” dikeluarkan. Jargon yang diperkuat oleh strategi kebijakan ini dirancang sekelompok ilmuwan ekonomi yang kemudian dikenal dengan Mafia Berkeley. Pintu bagi investasi modal asing dibuka seluas-luasnya. Program “bersih lingkungan” dari unsur komunisme terus diperkuat untuk menjaga stabilitas pembangunan ekonomi.
Langganan:
Postingan (Atom)