Minggu, 05 Desember 2010

Di Antara Prestasi dan Bunuh Diri


Judul Buku : After Orchad
Penulis : Margareta Astaman
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tebal : vi +193 halaman
Cetakan : Pertama, 2010

Singapura menjadi salah satu negara yang menjadi tujuan favorit pelajar Indonesia untuk meneruskan studi di perguruan tinggi. Kualitas pendidikan yang berstandar internasional, biaya yang murah, serta jarak yang relatif dekat menjadi daya tarik tersendiri. Untuk mencapai negeri singa tersebut hanya dibutuhkan waktu penerbangan satu jam dari Jakarta. Tidak hanya itu, kehidupan yang serba teratur juga menjadi alasan lain mengapa banyak yang tertarik kuliah di sana.

Sabtu, 13 November 2010

Kampus dan Solidaritas Sosial

Selalu ada berkah di balik musibah. Bencana alam yang akhir-akhir ini rutin “menyapa” negeri ini memang telah merenggut banyak hal. Banyak nyawa manusia yang menjadi korban, hewan ternak yang mati sia-sia, kerugian materi yang tak terhitung, sampai rasa trauma yang membekas terutama bagi para korban bencana. Namun dibalik itu semua, bencana telah menunjukkan bahwa solidaritas sosial masyarakat Indonesia masih cukup tinggi. Kampus, menjadi salah satu elemen yang ambil bagian dalam solidaritas sosial tersebut. Solidaritas yang muncul di tengah defisit keteladanan dari para pemimpin negeri ini.

Selasa, 12 Oktober 2010

Humanisasi Sepeda Motor

Jangan-jangan kemacetan di jalan yang diakibatkan oleh sepeda motor maupun kendaraan lainnya hanya memberi legitimasi bahwa sebenarnya kebudayaan kita juga sedang mengalami kemacetan.

Apakah anda pernah mengumpat ketika sedang berada di jalan? Atau setidaknya, apakah pernah marah karena melihat perilaku pengguna jalan raya yang sembrono? Saya kira, semua orang yang mendapat pertanyaan ini akan menganggukan kepala tanda setuju. Semakin padat dan macet sebuah jalan, umpatan maupun kemarahan akan muncul dengan otomatis. Bisa jadi, fenomena ini mempertegas adagium yang menjelaskan bahwa jalan merupakan cerminan sebuah peradaban. Kesemrawutan yang muncul di jalan menunjukkan bahwa di saat yang bersamaan kehidupan sosial kita sedang semrawut. Setiap orang dengan ego dan kepentingannya masing-masing seolah berusaha untuk saling menguasai jalan.

Minggu, 03 Oktober 2010

Ketika Negara Mengatur Rambut


Judul Buku : Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda 1970an
Penulis : Aria Wiratma Yudhistira
Penerbit : Marjin Kiri
Tebal : xxii +161 halaman
Cetakan : Pertama, 2010

Rambut gondrong menjadi musuh awal Orde Baru selain komunisme.
Barangkali banyak yang tidak tahu bahwa gunting pernah menjadi alat utama Orde Baru untuk mengatur rakyatnya sendiri. Anda tak perlu heran. Ya, dalam dekade awal berdirinya rezim ini, kebijakan anti rambut gondrong pernah dikeluarkan pemerintah. Kebijakan yang dibarengi dengan hukum potong rambut di tempat bagi siapapun yang melanggarnya. Buku Aria Wiratman Yudhistira ini mencoba melakukan penelusuran terhadap episode sejarah yang menggelikan sekaligus mengenaskan tersebut.

Awal tahun 1970an menjadi masa yang menyibukkan bagi rezim untuk menyiapkan landasan kekuasaannya. Jargon “ekonomi sebagai panglima” dikeluarkan. Jargon yang diperkuat oleh strategi kebijakan ini dirancang sekelompok ilmuwan ekonomi yang kemudian dikenal dengan Mafia Berkeley. Pintu bagi investasi modal asing dibuka seluas-luasnya. Program “bersih lingkungan” dari unsur komunisme terus diperkuat untuk menjaga stabilitas pembangunan ekonomi.

Senin, 13 September 2010

Hujan

Ayam! Ucapmu setengah berteriak. Teriakan yang lantas kamu sadari dengan tersenyum malu karena kehadiran ibu di ruang tamu rumahku. Ya, aku tak heran dengan keterkejutanmu itu. Pengakuan bahwa kamu jarang melihat ayam hidup pun hanya menegaskan anggapanku bahwa kotamu memang kota yang kejam. Kota yang bahkan tidak memberi kesempatan kepada ayam untuk sekadar berjalan-jalan mencari makan. Persis seperti yang kamu lihat di depan rumahku. “Selama ini jarang lihat ayam jalan, paling sering lihat ya ayam goreng”, katamu. Ungkapan yang lantas membuat kita, dan ibuku, tertawa.

Senin, 06 September 2010

Bang Hadi Sang Penjaga Akal Sehat


Judul Buku : Ashadi Siregar : Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru
Penyunting : Candra Gautama, Nanang Junaedi, M.Taufiqurohman, Ana Nadhya Abrar
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal : xxiii + 374 halaman
Cetakan : Juni 2010


Bukankah seorang intelektual harus mampu menunjukkan karakter personal yang kuat? Sebagian besar pasti akan menganggukkan kepala jika mendapat pertanyaan tersebut. Sayang, kondisi masyarakat modern yang kian hari kian pragmatis justru melahirkan sosok intelektual yang minim karakter. Julian Benda menyebut intelektual yang minim karakter ini sebagai pengkhianat. Alih-alih memberikan sumbangsih bagi keadaban publik, mereka justru semakin sibuk mengejar kepentingan pribadi. Kita hampir kesulitan untuk menemukan sosok yang bisa dijadikan panutan oleh masyarakat. Hanya sedikit saja yang mampu menyelami dan bergerak bersama masyarakat.