perubahan bukan soal waktu. perubahan harus diperjuangkan. perubahan harus diusahakan. sebab membiarkan waktu berjalan tanpa mau berbuat apa-apa sama saja menjadikan diri kita seorang pengecut.
Minggu, 12 Oktober 2008
minggu pagi
Tetapi hari minggu tetatplah hari minggu. Dalam bayanganku, hari minggu adalah hari yang berwarna biru muda. Entah kenapa, tapi aku memiliki bayangan-bayangan sendiri tentang hari. Mungkin hari minggu berwarna biru karena aku bisa lebih lama menikmati langit dibanding dengan hari-hari lainnya.
Dan hari minggu kali ini, aku kembali ke kota jogja, kota dengan berjuta pengalaman, berjuta pelajaran. Kembali belajar tentang cinta, impian serta jalan utnuk mencari tahu siapa sebenarnya diri sendiri. Saatnya untuk membulatkan tekad, aku pasti berhasil menaklukan jogja!
Sabtu, 11 Oktober 2008
Malam menjelang keberangkatan ke jogja
Bukan bermaksud mendramatisir keadaan. Tapi sepertinya ini perlu ditulis sebagai bahan refleksi saja. Liburan berlalu dengan indah, menurutku. Banyak pengalaman. Banyak pelajaran yang bisa diambil. Banyak membaca buku. Banyak menulis. Banyak mendengarkan lagu. Banyak bermain. Beberapa menit yang lalu aku sepertinya enggan pulang ke jogja. Mungkin ini salah satu kelemahanku. Terkadang bisa sangat malas. Tapi sekarang, setelah baru saja aku mengantar barang belanjaan tetangga ke rumahnya, aku merasa bersemangat lagi. Aku harus bermanfaat buat orang lain. Ya, kuliah di jogja bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Untuk bapak ibu, pasti. Kemudian juga untk mereka yang kurang beruntung dan belum bisa menikmati belajar di perguruan tinggi. Aku hanya lebih beruntung dari mereka. Lalu apa yang bisa aku banggakan? Aku harus terus berusaha. Untuk diri sendiri dan untuk rakyat negeri ini.
Aku yakin apa yang aku rasakan sekarang pasti dialami oleh semua mahasiswa (mungkin juga semua orang) yang liburannya hampir berakhir. Antara keinginan untuk melanjutkan liburan dan gairah untuk menghadapi tantangan yang akan ditemui di depan. Tapi sudahlah, waktu harus terus berjalan. Biarkan saja. Apa yang dirasakan ya dirasakan saja. Satu yang penting adalah semangat untuk berubah harus terus dipertahankan. Negeri ini masih carut marut. Rakyatnya masih banyak yang sengsara. Kalau para pemuda seperti aku masih berpikir malas-malasan lalu bagaimana nasib bangsa ini ke depan. Bisa hancur negeri ini.
Keadaan ekonomi akhir-akhir benar-benar mengkhawatirkan aku. Aku jelas tak paham dengan situasi yang demikian kompleks. Tapi sepertinya ini seperti efek bola salju, semakin lama semakin membesar dan bisa saja menghancurkan semua yang ada di depan. Buktinya saja Bursa Efek Indonesia (BEI) masih belum buka juga. Gejala apa ini? Aku juga belum bisa tenang meskipun Presiden Yudhono berkali-kali mengatakan kondisi perekonomian Negara kita masih under control, masih di bawah kendali. Tenan pora pak? Batinku.
Sebentar lagi bergelut dengan dunia kemahasiswaanku lagi. Apakah mahasiswa bisa menjadi salah satu solusi bagi permasalahan bangsa ini? Entah. Kita lihat saja nanti.
11 oktober 2008 ,, 18.41
Jumat, 10 Oktober 2008
Baca, Baca dan Baca
Seno Gumira Adji, setelah menerima Hadiah Sastra Asia Tenggara beberapa tahun lalu mengatakan bahwa : ….masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca untuk mencari alamat, membaca hanya untuk mengetahui harga-harga, membaca hanya untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca hanya untuk mengetahui hasil pertandingan sepakbola, membaca karena ingin tahu berapa persen diskon obral besar di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca sub-title opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan…”
Ini tentu menjadi hal yang sangat ironis. Sebab persoalan malas membaca ini tidak hanya menghinggapi masyarakat secara umum. Mahasiswa pun sekarang dijangkiti budaya malas membaca bacaan-bacaan yang berkualitas. Padahal mahasiswa adalah kalangan intelektual yang seharusnya kaya dengan pengetahuan. Tetapi, bagaimana mungkin bisa kaya pengetahuan jika membaca saja malas. Saat mahasiswa FISIPOL seharusnya membaca buku-buku tentang berbagai teori sosial politik, yang terjadi justru komik-komik yang menjadi bacaan kesukaan. Tak heran jika sekarang banyak mahasiswa FISIPOL yang ditanya tentang bermacam-macam teori hanya mampu menggelengkan kepala. Saat seharusnya mahasiswa fakultas ekonomi membaca koran-koran tentang perkembangan terbaru tentang krisis ekonomi, justru novel-novel yang berada di genggaman. Sebuah kejadian nyata, sungguh ironis ketika seorang mahasiswa tidak tahu apa itu Lehman Brothers. Padahal ini adalah perusahaan sekuritas yang beberapa waktu lalu bangkrut dan menyebabkan goncangan besar bagi perekonomian dunia. Mungkin sebentar lagi negeri ini akan merasakan dampak dari krisis tersebut.
Kalau mahasiswa masih mengaku sebagai agent of change, seharusnya dia mau lebih banyak membaca buku. Bukan berarti tidak boleh membaca novel atau komik. Tapi bagaimanapun juga, buku-buku tentang berbagai macam teori dan displin ilmunya harus mutlak dikuasai. Itu kalau masih mau disebut sebagai agent of change. Tapi terserah kepada teman-teman mahasiswa. Sekadar catatan, negeri ini nanti akan kita pimpin kawan!
Saatnya berjuang kembali..

Hari kesepuluh di bulan oktober. 2 hari lagi sudah harus pulang ke jogja. 2 hari lagi perjuangan sudah harus dimulai kembali. 2 hari lagi tekanan-tekanan akan datang menghampiri. Saatnya bersiap-siap atau aku akan dihancurkan sendiri. Saatnya membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya bisa demo. Saatnya membuktikan bahwa dalam keterbatasan pun aku bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Kasus RUUK DIY masih berlarut-larut meskipun Keppres sudah diberikan. Kasus RUU MA apalagi. Kenapa hakim agung masih ngotot pensiun di usia 70 tahun? Memang MA itu panti jompo? Apakah negeri kita lalu akan terkena imbas krisis yang terjadi di Amerika? Entah, aku kurang begitu paham mengenai masalah ekonomi. Tapi aku yakin, jika tidak bersiap-siap, negeri ini akan diterpa badai krisis ekonomi meskipun kata Yudhoyono tidak akan separah tahun 1998. kemarin perdagangan saham dihentikan. Katanya sih karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI jatuh sampai angka 1.451,669 karena rontoknya bursa global akibat dari krisis ekonomi Amerika Serikat. Itu berarti IHSG anjlok sekitar 10, 38 % dari angka 168, 052.
Indonesia sebentar lagi akan menjadi tuan rumah Asian Beach Games (ABG) yang akan dilangsungkan di Bali 18-26 oktober ini. Aku gak paham apa maunya pemerintah dengan ajang seperti ini. Sepertinya bukan arena untuk mengejar prestasi. Tapi lebih kepada arena untuk promosi pariwisata. Bagaimana tidak, dari 16 cabang yang akan dipertandingkan, tidak ada satupun yang dimainkan di SEA Games, Asian Games, apalagi Olimpiade. Ya karena ini merupakan ajang alternative. Buktinya ini baru pertama kali diadakan. KONI/KOI setahuku kekurangan dana. Tapi kok masih sempat juga menggelar ajang ini. Yang lebih sibuk terlihat justru kerja dari Kementerian Pariwisata daripada Kementerian Pemuda dan Olahraga. Boros uang. Tapi mungkin targetnya memang bukan mengejar prestasi melainkan turis-turis asing.
Kualifikasi World Cup 2010 besok dimulai lagi. Berharap semoga tim-tim yang aku idolakan semua lolos ke Afrika Selatan. Sampai sejauh ini semua berjalan baik-baik saja. Inggris masih memuncaki klasemen grup 6. spanyol masih berada di puncak klasemen grup 5. hanya Italia yang posisinya sekarang mengkhawatirkan. Meskipun masih berada di nomor 1 dengan 6 poin, tapi sekarang badai cedera tengah menghinggapi tim azzuri. Ini sungguh berbahay karena lawan yang dihadapi berikutnya adalah Negara kuat, Bulgaria.
Terakhir, mengutip kata-kata dari Rob Reiner, Ultimately all you can do is fix yourself. And that’s a lot. Because if you can fix yourself, it has a ripple effect.
Kamis, 09 Oktober 2008
setelah liburan ini..
Aneh. Suasana itu sungguh aneh. Bayangan ketika melihat pepohonan yang hijau, pohon cemara, pohon mahoni, pohon apapun entah aku kurang begitu paham apa namanya, langit cerah yang berwarna biru muda. Awan berserak putih dengan bermacam-macam bentuknya. Seharusnya aku terbiasa dengan suasana seperti itu. Aku jelas berasal dari desa. Desa terpencil di selatan Jogja. Banyak yang menjuluki (atau mengejek?) dengan sebutan negeri di atas awan. Ya, gunung kidul, desa kelahiran kedua orang tuaku. Tapi entah kenapa ketika hari itu (6/10) bermain (berwisata) ke daerah Sidomukti , Bandungan suasananya terasa aneh. Pergi bersama sahabat, teman-teman semasa SMA, rasanya seperti kembali mengarungi masa lalu yang penuh dengan kenangan indah. Aku senang, meskipun kadang aku merasa cuma seorang fotografer, hahaha.
Rasanya belum pernah aku pergi ke tempat seperti itu. Dengan bukit yang sangat tinggi. Ketika aku berada di atasnya, melihat ke bawah seperti melihat irisan bawang. Ya, berputar-putar tanaman nan hijau memenuhi pandangan. Jauh di sana ada rawa pening, kalau aku tidak salah. Jelas kelihatan gunung merapi, merbabu, entah apalagi. Aku yakin semua orang yang pergi ke tempat ini pasti akan mengaguminya dan melepaskan semua atribut kesombongan yang dimiliki. Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya.
Sempat merasa ketakutan ketika melihat salah satu wahana permainan di tempat ini. Flying Fox, aku biasa mendengar permainan ini tapi sama sekali belum pernah mencobanya. Dari mulai membeli karcis, mengantri di barisan, dan akhirnya memasang tali pengaman, jantung seperti berteriak tak karuan, berdetak dengan sangat kencang. Melihat ke bawah sepertinya kau membayangkan film silvester stallone yang aku lupa apa judulnya. Film itu dimulai ketika silvester gagal menolong istri temannya yang terjebak di tengah tali antara 2 tebing. Dan akhirnya istri temannya itu jatuh dalam jurang yang sangat dalam yang di bawahnya terdapat sungai. Hampir persis seperti itu mungkin gambaran mengenai apa yang aku rasakan. Jelas aku takut, jelas aku kepikiran macam-macam. Bagaimana kalau nanti di tengah-tengah talinya putus. Sudah siapkah aku mati?
Aku belum siap untuk itu. Tapi semuanya berlalu begitu cepat. Aku mulai meluncur. Pertama kali ketika orang yang memasang tali pengaman menyuruh aku menekuk kaki, aku menutup mata rapat-rapat. Membayangkan semua yang aku sayangi. Lalu aku mulai meluncur. Jantung sepertinya sudah ingin loncat dari badanku. Aku pasrah. Jika memang ini akhir hidupku. Semoga Allah mengampuni dosa hambanya ini. Tapi ternyata tidak sesuai pikiran-pikiran jelekku ini. Baru 2-3 meter meluncur, aku berani membuka mata. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Lega, sungguh aku baru bisa melepaskan semua beban pada saat meluncur di atas ketinggian puluhan meter seperti ini. Aku merasa tenang, sangat tenang, sesuatu yang sangat jarang bisa aku rasakan pasca usiaku 17 tahun. Semua beban seperti hilang menguap entah kemana. Lalu aku ayunkan kedua kakiku mencoba menikmati indahnya meluncur di antara 2 bukit yang jaraknya ke tanah mungkin sekitar 100 meter sepertinya. Mungkin juga lebih. Sensasi yang aku rasakan benar-benar belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku ketagihan. Tapi belum lama aku meluncur ternyata sudah harus berhenti. Sudah sampai di seberang. Turun. Dan aku ingin mencobanya lagi. Bukan sekarang. Tapi nanti pasti aku akan mencobanya lagi. Pasti itu.
Rapelling. Kalau wall climbing kita memanjat dari bawah ke atas, sedangkan ini kita menuruni tebing sedalam kurang lebih 4-0-50 meter. Sama saja yang aku rasakan. Takut pada awalnya. Bahkan jauh lebih takut jika dibandingkan dengan flying fox yang tadi. Dalam bahasa sederhananya, kita hanya pasrah saja ketika bermain flying fox, namun ketika Rapelling benar-benar dibutuhkan keberanian kita. Meskipun ini sangat aman, tentu menakutkan, apalagi bagi seorang pemula seperti aku. Menuruni tebing dengan berdiri miring ke belakang sekitar 45 derajat sangatlah membuat hati seperti kemropok dalam bahasa salah seorang teman lama. Pelan-pelan tim rapellingnya memasang pengaman ke badanku. Aku sudah ketakutan saja. Mulai berjalan, sepertinya kakiku terasa linu, pegal semuanya, mati rasa, mungkin. Aku terpaksa harus melepas sandal jepit yang aku pakai. Terasa licin keringat dingin yang membasahi hampir seluruh badan. Namun aku beranikan diri, seorang mahasiswa tidak boleh takut hanya dalam hal beginian. Pelan-pelan aku turun, mencoba menikmati, meskipun sebenarnya aku benar-benar takut. Tapi aku beranikan diri, aku turun menyusuri tebing yang agak kasar bebatuannya. Apalagi ditambah aku tidak memakai sandal. Padahal di kedua kakiku masih menempel perban obat mata ikan. Agak sakit, tapi sudah sejauh ini, sudah di tengah jalan. Harus diteruskan. Setidaknya aku kemudian bisa menikmatinya. Di bawah sudah menunggu seorang teman yang membawa kamera. Sambil tersenyum puas aku berteriak lega. Tentu sedikit berpose untuk kenang-kenangan. Akhirnya aku bisa melewati tantangan yang sebenarnya aman tersebut.
Belum selesai petualangan hari itu. Jalan-jalan sebentar menikmati indahnya ciptaan Allah. Sungguh luar biasa. Indonesia dianugerahi negeri dengan kekayaan alam yang luar biasa. Negeri yang dianugerahi keindahan alam seperti ini seharusnya mampu bersyukur. Tidak hanya warga, termasuk pejabat negeri ini harusnya bersyukur. Bukan malah korupsi dan merusak keindahan alam negeri ini demi tujuan meraih keuntungan pribadi semata.
Setelah liburan ini, seharusnya aku bisa lebih kuat dalam menghadapi badai tekanan yang pasti akan menemuiku sebentar lagi. Tekanan yang bertubi-tubi, pasti segera datang. Tinggal aku kuat menghadapinya atau tidak. Apakah aku akan menyetir badai tekanan itu, atau justru aku yang akan terombang-ambing oleh badai yang siap menerjang apapun yang berada di depannya.
Selasa, 07 Oktober 2008
Tentang RUUK DIY…
Kontroversi terkait Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) DIY sepertinya tak kunjung usai. Kemarin Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu presiden Yudhoyono untuk menerima Keppres terkait perpanjangan masa jabatan Gubernur. Rentang waktu perpanjangan belum dtentukan berapa lamanya. Tetapi maksimal adalah 3 tahun. Dan diharapkan dalam 3 tahun tersebut RUUK sudah disahkan menjadi UU. Masalah ini berkembang panas terutama karena aku sekarang tinggal di Jogja. Otomatis aku mau tidak mau mengikutinya. Sempat dibahas di perkuliahan pers, sangat mengasyikkan membahas masalah ini sampai membuat teman-teman yang asli Jogja terpancing untuk memberikan komentar. Apalagi banyak sekali sinyalemen yang beredar di balik RUUk yang berlarut-larut ini. Dari mulai isu penjegalan Sri Sultan untuk menjadi capres tahun 2009 sampai adanya anggapan yang beredar bahwa pemerintah pusat melupakan dan mengingkari sejarah bergabungnya DIY ke dalajm NKRI. Sikapku sendiri sudah jelas. Aku mendukung sepenuhnya bahwa jabatan Gubernur sudah sewajarnya melekat pada Sri Sultan. Begitu juga dengan wakil gubernur melekat pada Paku Alam. Artinya, pemilihan gubernur di DIY tidak ada. Yang ada hanyalah penetapan Sri Sultan menjadi gubernur. Jadi tidak seperti daerah lain yang menggelar pemilihan gubernur langsung. Ini sesuai dengan maklumat 5 oktober 1945. dimana saat itu keraton DIY adalah kerajaan pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan menggabungkan diri menjadi bagian dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satu isi maklumat tersebut adalah bahwa jabatan gubernur atau kepala daerah tertinggi di DIY melekat pada Sri Sultan. Dengan kata lain. Keturunan Sultan secara turun temurun akan menjadi Gubernur DIY. Hal ini bukan berarti mengingkari sistem demokrasi yang dijalankan Indonesia. Tetapi apa yang dijalankan oleh DIY justru sebenarnya jauh lebih demokratis. Demokrasi substansial, begitu Sri Sultan menyebutnya. Aku sepakat dengan hal tersebut dan dengan tegas aku menolak apa yang dikatakan salah seorang pembantu SBY yang mengatakan bahwa di DIY menggunakan sistem monarki absolute. Sosok Sri Sultan jelaslah sosok yang mampu mengayomi rakyatnya. Keberagaman dijamin di daerah ini. Setiap mahasiswa yang merantau ke jogja pasti merasa nyaman dengan suasana daerah ini. Karena itu aku ingin bilang, sampai kapanpun Jogja harus tetap istimewa!!
Minggu, 28 September 2008
Pelajaran kemiskinan
Berbagai kasus terkait kemiskinan saat ini muncul dengan sangat jelas di hadapan kita semua. Belum tuntas kasus gizi buruk dan busung lapar yang menimpa rakyat Indonesia. Belum selesai penderitaan rakyat sebagai imbas kenaikan harga BBM, kita disuguhi berita yang sangat tragis sekaligus tidak masuk di akal. Hanya untuk mendapatkan uang zakat senilai Rp 30.000, ratusan orang rela mengantri dan menyebabkan 21 orang tewas.
Insiden zakat Pasuruan itu menyadarkan banyak kalangan. Selama ini kita seolah lupa bahwa masih banyak saudara kita yang miskin. Kita terlena oleh keadaan yang membuat kita nyaman. Kita setiap hari lebih banyak disuguhi berita-berita tentang kehidupan para elite politik. Tapi, ternyata kemiskinan di negeri ini merupakan penyakit yang belum bisa disembuhkan. Menurut data BPS, terdapat sekitar 30 juta rakyat Indonesia yang masih miskin.
Kemiskinan yang terjadi di Indonesia pada dasarnya adalah kemiskinan yang terjadi secara sistematis. Tentu menjadi hal yang aneh kalau kita miskin di negeri kaya. Salah satu contoh yang nyata adalah beberapa waktu yang lalu terjadi kasus gzi bruk di daerah Jawa Barat. Ini tentu semakin aneh, di daerah yang relatif dekat dengan Jakarta pun masih ditemukan kasus semacam ini. Dengan kata lain, keadaan seperti ini dapat terjadi karena pemerintah mengeluarkan kebijakan yang salah terkait masalah ekonomi. Masyarakat yang kaya semakin kaya, dan yang miskin pun menjadi semakin tidak berdaya.
Pemerintah seharusnya mulai melakukan langkah yang lebih berani. Kebijakan-kebijakan di bidang ekonomi perlu di evaluasi. Kebijakan terkait liberalisasi perekonomian harus dihentikan. Sebab sudah jelas kelihatan bahwa hal tersebut tidak mensejahterakan rakyat Indonesia. Kemudian, jangan sampai kebijakan seperti BLT muncul kembali. Sebab itu hanya akan melatih rakyat untuk mengemis dan malas bekerja.
Cukup insiden Pasuruan menjadi yang terakhir. Itu menjadi pelajaran agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama di masa depan. Pelajaran tentang kemiskinan yang diajarkan oleh peristiwa tadi harus bisa kita ambil hikmahnya. Kita tidak boleh lagi menjadi ayam yang mati di lumbung padi. Sudah saatnya kita bangkit melawan kemiskinan. Sudah saatnya ekonomi kita berpihak kepada rakyat Indonesia. Sehingga impian tentang kesejahteraan rakyat Indonesia seluruhnya, dapat tercapai.
