Jumat, 10 Oktober 2008

Saatnya berjuang kembali..


Hari kesepuluh di bulan oktober. 2 hari lagi sudah harus pulang ke jogja. 2 hari lagi perjuangan sudah harus dimulai kembali. 2 hari lagi tekanan-tekanan akan datang menghampiri. Saatnya bersiap-siap atau aku akan dihancurkan sendiri. Saatnya membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya bisa demo. Saatnya membuktikan bahwa dalam keterbatasan pun aku bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Kasus RUUK DIY masih berlarut-larut meskipun Keppres sudah diberikan. Kasus RUU MA apalagi. Kenapa hakim agung masih ngotot pensiun di usia 70 tahun? Memang MA itu panti jompo? Apakah negeri kita lalu akan terkena imbas krisis yang terjadi di Amerika? Entah, aku kurang begitu paham mengenai masalah ekonomi. Tapi aku yakin, jika tidak bersiap-siap, negeri ini akan diterpa badai krisis ekonomi meskipun kata Yudhoyono tidak akan separah tahun 1998. kemarin perdagangan saham dihentikan. Katanya sih karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI jatuh sampai angka 1.451,669 karena rontoknya bursa global akibat dari krisis ekonomi Amerika Serikat. Itu berarti IHSG anjlok sekitar 10, 38 % dari angka 168, 052.

Indonesia sebentar lagi akan menjadi tuan rumah Asian Beach Games (ABG) yang akan dilangsungkan di Bali 18-26 oktober ini. Aku gak paham apa maunya pemerintah dengan ajang seperti ini. Sepertinya bukan arena untuk mengejar prestasi. Tapi lebih kepada arena untuk promosi pariwisata. Bagaimana tidak, dari 16 cabang yang akan dipertandingkan, tidak ada satupun yang dimainkan di SEA Games, Asian Games, apalagi Olimpiade. Ya karena ini merupakan ajang alternative. Buktinya ini baru pertama kali diadakan. KONI/KOI setahuku kekurangan dana. Tapi kok masih sempat juga menggelar ajang ini. Yang lebih sibuk terlihat justru kerja dari Kementerian Pariwisata daripada Kementerian Pemuda dan Olahraga. Boros uang. Tapi mungkin targetnya memang bukan mengejar prestasi melainkan turis-turis asing.

Kualifikasi World Cup 2010 besok dimulai lagi. Berharap semoga tim-tim yang aku idolakan semua lolos ke Afrika Selatan. Sampai sejauh ini semua berjalan baik-baik saja. Inggris masih memuncaki klasemen grup 6. spanyol masih berada di puncak klasemen grup 5. hanya Italia yang posisinya sekarang mengkhawatirkan. Meskipun masih berada di nomor 1 dengan 6 poin, tapi sekarang badai cedera tengah menghinggapi tim azzuri. Ini sungguh berbahay karena lawan yang dihadapi berikutnya adalah Negara kuat, Bulgaria.

Terakhir, mengutip kata-kata dari Rob Reiner, Ultimately all you can do is fix yourself. And that’s a lot. Because if you can fix yourself, it has a ripple effect.


Kamis, 09 Oktober 2008

setelah liburan ini..

Aneh. Suasana itu sungguh aneh. Bayangan ketika melihat pepohonan yang hijau, pohon cemara, pohon mahoni, pohon apapun entah aku kurang begitu paham apa namanya, langit cerah yang berwarna biru muda. Awan berserak putih dengan bermacam-macam bentuknya. Seharusnya aku terbiasa dengan suasana seperti itu. Aku jelas berasal dari desa. Desa terpencil di selatan Jogja. Banyak yang menjuluki (atau mengejek?) dengan sebutan negeri di atas awan. Ya, gunung kidul, desa kelahiran kedua orang tuaku. Tapi entah kenapa ketika hari itu (6/10) bermain (berwisata) ke daerah Sidomukti , Bandungan suasananya terasa aneh. Pergi bersama sahabat, teman-teman semasa SMA, rasanya seperti kembali mengarungi masa lalu yang penuh dengan kenangan indah. Aku senang, meskipun kadang aku merasa cuma seorang fotografer, hahaha.



Rasanya belum pernah aku pergi ke tempat seperti itu. Dengan bukit yang sangat tinggi. Ketika aku berada di atasnya, melihat ke bawah seperti melihat irisan bawang. Ya, berputar-putar tanaman nan hijau memenuhi pandangan. Jauh di sana ada rawa pening, kalau aku tidak salah. Jelas kelihatan gunung merapi, merbabu, entah apalagi. Aku yakin semua orang yang pergi ke tempat ini pasti akan mengaguminya dan melepaskan semua atribut kesombongan yang dimiliki. Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya.

Sempat merasa ketakutan ketika melihat salah satu wahana permainan di tempat ini. Flying Fox, aku biasa mendengar permainan ini tapi sama sekali belum pernah mencobanya. Dari mulai membeli karcis, mengantri di barisan, dan akhirnya memasang tali pengaman, jantung seperti berteriak tak karuan, berdetak dengan sangat kencang. Melihat ke bawah sepertinya kau membayangkan film silvester stallone yang aku lupa apa judulnya. Film itu dimulai ketika silvester gagal menolong istri temannya yang terjebak di tengah tali antara 2 tebing. Dan akhirnya istri temannya itu jatuh dalam jurang yang sangat dalam yang di bawahnya terdapat sungai. Hampir persis seperti itu mungkin gambaran mengenai apa yang aku rasakan. Jelas aku takut, jelas aku kepikiran macam-macam. Bagaimana kalau nanti di tengah-tengah talinya putus. Sudah siapkah aku mati?

Aku belum siap untuk itu. Tapi semuanya berlalu begitu cepat. Aku mulai meluncur. Pertama kali ketika orang yang memasang tali pengaman menyuruh aku menekuk kaki, aku menutup mata rapat-rapat. Membayangkan semua yang aku sayangi. Lalu aku mulai meluncur. Jantung sepertinya sudah ingin loncat dari badanku. Aku pasrah. Jika memang ini akhir hidupku. Semoga Allah mengampuni dosa hambanya ini. Tapi ternyata tidak sesuai pikiran-pikiran jelekku ini. Baru 2-3 meter meluncur, aku berani membuka mata. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Lega, sungguh aku baru bisa melepaskan semua beban pada saat meluncur di atas ketinggian puluhan meter seperti ini. Aku merasa tenang, sangat tenang, sesuatu yang sangat jarang bisa aku rasakan pasca usiaku 17 tahun. Semua beban seperti hilang menguap entah kemana. Lalu aku ayunkan kedua kakiku mencoba menikmati indahnya meluncur di antara 2 bukit yang jaraknya ke tanah mungkin sekitar 100 meter sepertinya. Mungkin juga lebih. Sensasi yang aku rasakan benar-benar belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku ketagihan. Tapi belum lama aku meluncur ternyata sudah harus berhenti. Sudah sampai di seberang. Turun. Dan aku ingin mencobanya lagi. Bukan sekarang. Tapi nanti pasti aku akan mencobanya lagi. Pasti itu.

Rapelling. Kalau wall climbing kita memanjat dari bawah ke atas, sedangkan ini kita menuruni tebing sedalam kurang lebih 4-0-50 meter. Sama saja yang aku rasakan. Takut pada awalnya. Bahkan jauh lebih takut jika dibandingkan dengan flying fox yang tadi. Dalam bahasa sederhananya, kita hanya pasrah saja ketika bermain flying fox, namun ketika Rapelling benar-benar dibutuhkan keberanian kita. Meskipun ini sangat aman, tentu menakutkan, apalagi bagi seorang pemula seperti aku. Menuruni tebing dengan berdiri miring ke belakang sekitar 45 derajat sangatlah membuat hati seperti kemropok dalam bahasa salah seorang teman lama. Pelan-pelan tim rapellingnya memasang pengaman ke badanku. Aku sudah ketakutan saja. Mulai berjalan, sepertinya kakiku terasa linu, pegal semuanya, mati rasa, mungkin. Aku terpaksa harus melepas sandal jepit yang aku pakai. Terasa licin keringat dingin yang membasahi hampir seluruh badan. Namun aku beranikan diri, seorang mahasiswa tidak boleh takut hanya dalam hal beginian. Pelan-pelan aku turun, mencoba menikmati, meskipun sebenarnya aku benar-benar takut. Tapi aku beranikan diri, aku turun menyusuri tebing yang agak kasar bebatuannya. Apalagi ditambah aku tidak memakai sandal. Padahal di kedua kakiku masih menempel perban obat mata ikan. Agak sakit, tapi sudah sejauh ini, sudah di tengah jalan. Harus diteruskan. Setidaknya aku kemudian bisa menikmatinya. Di bawah sudah menunggu seorang teman yang membawa kamera. Sambil tersenyum puas aku berteriak lega. Tentu sedikit berpose untuk kenang-kenangan. Akhirnya aku bisa melewati tantangan yang sebenarnya aman tersebut.

Belum selesai petualangan hari itu. Jalan-jalan sebentar menikmati indahnya ciptaan Allah. Sungguh luar biasa. Indonesia dianugerahi negeri dengan kekayaan alam yang luar biasa. Negeri yang dianugerahi keindahan alam seperti ini seharusnya mampu bersyukur. Tidak hanya warga, termasuk pejabat negeri ini harusnya bersyukur. Bukan malah korupsi dan merusak keindahan alam negeri ini demi tujuan meraih keuntungan pribadi semata.

Setelah liburan ini, seharusnya aku bisa lebih kuat dalam menghadapi badai tekanan yang pasti akan menemuiku sebentar lagi. Tekanan yang bertubi-tubi, pasti segera datang. Tinggal aku kuat menghadapinya atau tidak. Apakah aku akan menyetir badai tekanan itu, atau justru aku yang akan terombang-ambing oleh badai yang siap menerjang apapun yang berada di depannya.

Selasa, 07 Oktober 2008

Tentang RUUK DIY…

Kontroversi terkait Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) DIY sepertinya tak kunjung usai. Kemarin Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu presiden Yudhoyono untuk menerima Keppres terkait perpanjangan masa jabatan Gubernur. Rentang waktu perpanjangan belum dtentukan berapa lamanya. Tetapi maksimal adalah 3 tahun. Dan diharapkan dalam 3 tahun tersebut RUUK sudah disahkan menjadi UU. Masalah ini berkembang panas terutama karena aku sekarang tinggal di Jogja. Otomatis aku mau tidak mau mengikutinya. Sempat dibahas di perkuliahan pers, sangat mengasyikkan membahas masalah ini sampai membuat teman-teman yang asli Jogja terpancing untuk memberikan komentar. Apalagi banyak sekali sinyalemen yang beredar di balik RUUk yang berlarut-larut ini. Dari mulai isu penjegalan Sri Sultan untuk menjadi capres tahun 2009 sampai adanya anggapan yang beredar bahwa pemerintah pusat melupakan dan mengingkari sejarah bergabungnya DIY ke dalajm NKRI. Sikapku sendiri sudah jelas. Aku mendukung sepenuhnya bahwa jabatan Gubernur sudah sewajarnya melekat pada Sri Sultan. Begitu juga dengan wakil gubernur melekat pada Paku Alam. Artinya, pemilihan gubernur di DIY tidak ada. Yang ada hanyalah penetapan Sri Sultan menjadi gubernur. Jadi tidak seperti daerah lain yang menggelar pemilihan gubernur langsung. Ini sesuai dengan maklumat 5 oktober 1945. dimana saat itu keraton DIY adalah kerajaan pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan menggabungkan diri menjadi bagian dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satu isi maklumat tersebut adalah bahwa jabatan gubernur atau kepala daerah tertinggi di DIY melekat pada Sri Sultan. Dengan kata lain. Keturunan Sultan secara turun temurun akan menjadi Gubernur DIY. Hal ini bukan berarti mengingkari sistem demokrasi yang dijalankan Indonesia. Tetapi apa yang dijalankan oleh DIY justru sebenarnya jauh lebih demokratis. Demokrasi substansial, begitu Sri Sultan menyebutnya. Aku sepakat dengan hal tersebut dan dengan tegas aku menolak apa yang dikatakan salah seorang pembantu SBY yang mengatakan bahwa di DIY menggunakan sistem monarki absolute. Sosok Sri Sultan jelaslah sosok yang mampu mengayomi rakyatnya. Keberagaman dijamin di daerah ini. Setiap mahasiswa yang merantau ke jogja pasti merasa nyaman dengan suasana daerah ini. Karena itu aku ingin bilang, sampai kapanpun Jogja harus tetap istimewa!!

Minggu, 28 September 2008

Pelajaran kemiskinan

Berbagai kasus terkait kemiskinan saat ini muncul dengan sangat jelas di hadapan kita semua. Belum tuntas kasus gizi buruk dan busung lapar yang menimpa rakyat Indonesia. Belum selesai penderitaan rakyat sebagai imbas kenaikan harga BBM, kita disuguhi berita yang sangat tragis sekaligus tidak masuk di akal. Hanya untuk mendapatkan uang zakat senilai Rp 30.000, ratusan orang rela mengantri dan menyebabkan 21 orang tewas.

Insiden zakat Pasuruan itu menyadarkan banyak kalangan. Selama ini kita seolah lupa bahwa masih banyak saudara kita yang miskin. Kita terlena oleh keadaan yang membuat kita nyaman. Kita setiap hari lebih banyak disuguhi berita-berita tentang kehidupan para elite politik. Tapi, ternyata kemiskinan di negeri ini merupakan penyakit yang belum bisa disembuhkan. Menurut data BPS, terdapat sekitar 30 juta rakyat Indonesia yang masih miskin.

Kemiskinan yang terjadi di Indonesia pada dasarnya adalah kemiskinan yang terjadi secara sistematis. Tentu menjadi hal yang aneh kalau kita miskin di negeri kaya. Salah satu contoh yang nyata adalah beberapa waktu yang lalu terjadi kasus gzi bruk di daerah Jawa Barat. Ini tentu semakin aneh, di daerah yang relatif dekat dengan Jakarta pun masih ditemukan kasus semacam ini. Dengan kata lain, keadaan seperti ini dapat terjadi karena pemerintah mengeluarkan kebijakan yang salah terkait masalah ekonomi. Masyarakat yang kaya semakin kaya, dan yang miskin pun menjadi semakin tidak berdaya.

Pemerintah seharusnya mulai melakukan langkah yang lebih berani. Kebijakan-kebijakan di bidang ekonomi perlu di evaluasi. Kebijakan terkait liberalisasi perekonomian harus dihentikan. Sebab sudah jelas kelihatan bahwa hal tersebut tidak mensejahterakan rakyat Indonesia. Kemudian, jangan sampai kebijakan seperti BLT muncul kembali. Sebab itu hanya akan melatih rakyat untuk mengemis dan malas bekerja.

Cukup insiden Pasuruan menjadi yang terakhir. Itu menjadi pelajaran agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama di masa depan. Pelajaran tentang kemiskinan yang diajarkan oleh peristiwa tadi harus bisa kita ambil hikmahnya. Kita tidak boleh lagi menjadi ayam yang mati di lumbung padi. Sudah saatnya kita bangkit melawan kemiskinan. Sudah saatnya ekonomi kita berpihak kepada rakyat Indonesia. Sehingga impian tentang kesejahteraan rakyat Indonesia seluruhnya, dapat tercapai.

Jumat, 26 September 2008

Ancaman Neoliberalisme..

Sekilas, pandangan bahwa banyaknya investor asing yang masuk ke Indonesia itu baik. Keadaan ekonomi akan membaik seiring dengan datangnya modal-modal asing. Kesejahteraan pun akan datang dengan sendirinya. Pemerintah Indonesia saat ini kurang labih memiliki pandangan yang sama dengan hal tersebut. Hal ini terlihat dari berbagai paket kebijakan yang intinya adalah membuka peluang seluas-luasnya agar investor asing mau menanamkan modalnya di nigeri ini. Privatisasi, liberalisasi, sampai pasar bebas menjadi hal yang sudah tidak asing di Indonesia.

Tetapi kalau mau kita lihat lebih jauh, neoliberalisme memiliki agenda yang sangat busuk di dalamnya. Agenda yang secara perlahan-lahan akan merusak dan menghancurkan bangsa ini. Agenda kaum kapitalis ini adalah menguasai perekonomian dunia. Lalu kemudian mempermainkan pasar seenaknya sendiri. Apalagi, ideologi ini mengharuskan sektor non-perdagangan dan merupakan hak rakyat sepert listrik, air dan migas dibuat dengan competition policy atau kebijakan kompetisi. Sehingga, sektor publik yang pada awalnya merupakan barang publik yang dikuasai dan dikendalikan oleh negara dibuat menjadi barang ekonomi yang harganya ditentukan oleh dinamika pasar.

Neoliberalisme selalu memandang bahwa keadaan ekonomi tidak akan optimal jika distribusi barang dan jasa serta modal tidak dikontrol oleh aturan apapun. Dengan kata lain, keadaan ekonomi akan opimal jika barang dan jasa serta modal dimiliki dan dikuasai oleh individu-individu yang memiliki tujuan untuk mencetak keuntungan pribadi yang sebesar-besarnya. Kemudian, ”Private Property” akan menjadi demikian absolut tanpa tanggungjawab apapun dari negara.

Perlahan-lahan, akan terjadi berbagai perubahan aturan dari lingkup yang lebih luas yaitu lingkup sosial menjadi sempit lingkup pribadi. Masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, kesehatan serta pengangguran yang sebelumnya membutuhkan peran besar dari negara kemudian hanya menjadi masalah pribadi saja yang hanya membutuhkan kebijakan inividu tanpa pengaruh apapun dari negara.

Neoliberalisme sendiri secara kasat mata sudah mulai menguasai Indonesia. sektor-sektor publik atau BUMN mulai diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Atau dengan kata lain, privatisasi. Maka tak heran jika sekarang banyak sekali aset-aset strategis nasional yang dikuasai bangsa asing. Dari SDA sampai bidang telekomunikasi pun sudah banyak yang menjadi milik asing. Ini tentu menjadi sebuah catatan kelam negeri ini.

Inilah Neoliberalisme. Sebuah ideologi dan sistem yang sangat jahat. Menurut Data UNDP (United Nations Development Programme), rentang antara pendapatan tertinggi dan terendah di Indonesia juga sangat lebar, karena sekitar 10 % penduduk terkaya masih menguasai sekitar 80 % aset nasional. Biaya kesehatan yang tinggi semakin memberatkan rakyat. Kriminalitas sejak tahun 1998 sampai sekarang naik 1.000 %. Di bidang pendidikan 4,5 juta anak tiap tahun putus sekolah. Fasilitas pendidikan seperti sekolah dan kelengkapannya terabaikan. Kekurangan gizi mencapai angka 8 % dari total jumlah anak balita. Kwik Kian Gie pernah melaporkan kasus di dua desa, yakni Desa Klungkung (10 kilometer dari kota Jember) dan di Gadingrejo (Juwana) yang pernah dikunjunginya semasa ia masih Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Rakyat miskin di dua desa itu hidup hanya dengan Rp 1.250 atau sekitar 0,13 dollar AS per hari per orang. Dengan pendapatan sebesar itu, mereka setiap hari hanya bisa makan dua kali, itu pun bubur sangat encer hanya dengan lauk garam. Kadang ada sayuran, tetapi kadang kala juga tidak ada. Daging tidak pernah mereka lihat. Pengangguran meningkat 1 juta orang setiap tahunnya.

Neoliberalisme memang memberlakukan semua kebutuhan hidup yang mendasar bagi hajat hidup orang banyak tak lebih dari sekadar omoditas ekonomi saja. Prinsip pasar bebas pun diterapkan dalam berbagai bidang. Terlihat dari berbagai kebijakan yang intinya adalah meliberalisasikan berbagai sektor publik. Yang paling terlihat jelas adalah sektor pendidikan. Biaya pendidikan merangkak mahal dan hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya saja. Begitu juga dengan kesehatan. Hak-hak orang miskin untuk mengakses kesehatan sangat dibatasi. Sudah terlalu sering kita mendengar banyaknya orang miskin yang sakit namun tidak pernah bisa berobat karena tidak punya biaya.

Sebagai negara berkembang, Indonesia memang akan menjadi sasaran empuk kaum neolib. Jika tidak mampu bertahan dengan kemandirian bangsa, Indonesia akan hancur perlahan-lahan di masa depan. Bagaimana tidak, saat ini saja kondisi negeri ini sudah sedemikian parah. Kemiskinan dimana-mana, kelaparan, gizi buruk serta lainnya. Pemerintah justru semakin menyengsarakan rakyat dengan berpihak kepada kaum neolib. Kebijakan di sektor energi yang carut marut membuktikan hal itu. Harga BBM dan elpiji dinaikkan. Serta masih banyak lagi contoh yang lain. Alih-alih memakmurkan rakyat, pemerintah justru memperlebar jarak antara si kaya dan si miskin.

Tetapi sebenarnya, yang patut dikhawatirkan dari neoliberalisme adalah sifatnya yang mampu menghancurkan tatanan lokal. Dengan sangat diakuinya hak-hak individu, keserakahan akan menjadi hal yang sangat dimaklumi. Mereka yang kaya akan semakin memperkaya dirinya sendiri. Dan yang miskin akan semakin sengsara. Belum lagi budaya serta adat bangsa ini akan luntur. Tidak akan lagi kita temui orang yang masih mau menolong saudaranya. Norma-norma yang selalu diajarkan sejak kecil, budi pekerti, tenggang rasa, lapang dada dan banyak lainnya akan hilang begitu saja. Setiap orang hanya akan memikirkan dirinya sendiri. Dan fakta bahwa kita pernah bersatu dan berjuang bersama-sama dalam merebut kemerdekaan negeri ini hanya akan menjadi catatan sejarah yang usang dan bahkan mungkin terlupakan.

Bangsa Indonesi sebenarnya sudah memiliki sebuah ideologi yang menjadi jatidiri bagi bangsa ini. Ideologi Pancasila. Sebuah ideologi yang merupakan manifestasi nilai-nilai luhur bangsa ini. Jika kita mau lebih konsisten dalam menjalankan ideologi ini, kita akan mampu bertahan dari derasnya berbagai ideologi yang menerjang Indonesia. Termasuk dari neoliberalisme.

Kamis, 25 September 2008

Lonceng Kematian Kebebasan Pers

Membaca putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terkait kasus Asian Agri vs Tempo sungguh memprihatinkan. Sekali lagi, pers kembali dikorbankan. Atas nama keadilan, pengadilan memutuskan bahwa majalah Tempo terbukti bersalah dengan menyerang dan melecehkan nama baik pemilik Asian Agri, Sukanto Tanoto. Pemimpin Redaksi (Pemred) Tempo kemudian diharuskan membayar denda sebesar 50 juta dan wajib meminta maaf tiga hari berturut-turut di majalah Tempo, koran Tempo, serta harian Kompas. Asian Agri sendiri melakukan gugatan setelah majalah Tempo memuat berita mengenai dugaan penggelapan pajak yang dilakukan oleh perusahaan yang bergerak di bidang agrobisnis tersebut.

Yang mengkawatirkan, putusan ini adalah yang kedua kalinya dalam 3 bulan terakhir. Juli lalu, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memenangkan gugatan perdata PT Riau Andalan Pulp and Paper atas koran Tempo. Ini tentu menjadi ancaman yang cukup serius bagi kebebasan pers di Indonesia. di saat masa transisi demokrasi seperti ini, ada kecenderungan bahwa era pembreidelan pers akan kembali lagi. Persis seperti era Orde Baru, dimana pers benar-benar dimandulkan melalui serangkaian kebijakan yang diambil oleh rezim.

Yang paling jelas terlihat pada Rancangan Undang-Undang Pemilu. Indikasi adanya pembreidelan jelas terlihat ketika ada salah satu pasal yang menyebutkan bahwa pemerintah berhak menghentikan program siaran maupun pemberitaan yang dirasakan mengganggu ketertiban umum. Ini tentu bisa menjadi langkah awal sebelum pembreidelan nanti akan benar-benar terjadi. Sebab RUU Pemilu ini jelas bertentangan dengan paradigma kebebasan pers seperti tercantum dalam Undang-Undang No 40 Tahun 1999 tentang pers.

Sarat Kejanggalan

Kemudian terkait putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terhadap majalah Tempo. Dalam putusan tersebut sangat banyak kejanggalan yang terjadi. Pertama, hakim dinilai salah mengutip dalam putusannya. Hakim menyatakan bahwa Tempo tidak melayani hak jawab selama setahun. Padahal menurut Pemred Tempo, Toriq Hadad, Asian Agri baru mengajukan hak jawab 11 bulan setelah berita itu diturunkan. Koran ini juga melayani hak jawab tersebut (koran Tempo 12 September 2008). Kedua, pertimbangan hakim bahwa suatu kasus tak bisa diberitakan sebelum berkekuatan hukum juga aneh. Ini sama saja dengan menutup akses untuk jurnalisme investigasi. Kalau memang suatu kasus tidak bisa diberitakan sebelum berkekuatan hukum, seharusnya akan banyak media massa dan televisi yang diberi sanksi. Misalnya dalam kasus korupsi. Ini tentu menjadi bukti lain bahwa hakim memakai stadar ganda dalam putusannya.

Belum lagi jika melihat fakta bahwa hakim nyaris tidak memasukkan kesaksian ahli dan fakta yang mendukung berita Tempo. Bahkan hakim menyatakan bahwa berita tersebut merupakan sebuah penghakiman oleh pers (trial by the press). Ketiga adalah mengenai kemenangan Asian Agri di pengadilan secara berturut-turut. Putusan ini adalah yang keempat kalinya bagi perusahaan milik Sukanto Tanoto tersebut. Belum lama kita ketahui bahwa Asian Agri mengalahkan Direktorat Pajak yang mengusut dugaaan penggelapan pajak Rp 1,3 Trilyun yang dilakukan perusahaan tersebut. Kemudian, seperti sudah disebutkan di atas, pengadilan memenangkan PT RAPP atas gugatan terhadap Tempo mengenai illegal loging. Belum lagi jika melihat bahwa Asian Agri menghukum Vincentius Amin Sutanto dengan 11 tahun penjara. Vincentius adalah pengawas keuangan Asian Agri yang dipecat karena membocorkan dokumen dugaan penggelapan pajak.

Ini akan menjadi sebuah preseden yang buruk bagi kebebasan pers. Kecenderungan yang terjadi selama ini adalah pers selalu dikorbankan ketika berhadapan dengan para pengusaha yang kaya. Pengusaha yang bermasalah dengan pers memakai cara dengan melakukan kriminalisasi pers. Orang-orang kaya tersebut lebih suka menggugat pers secara perdata ketimbang menggunakan hak jawab atas pemberitaan yang dimuat. Padahal mekanisme hak jawab jelas tercantum dalam pasal 5 ayat 2 UU No 40 tahun 1999 tentang pers. Sepanjang tahun 2007 sampai 2008 saja tercatat sudah banyak nama yang menjadi korban kriminalisasi pers. Diantaranya adalah majalah Time (Asia) yang divonis bersalah dalam pemberitaa dugaan kasus korupsi yang dilakukan oleh mantan presiden Soeharto beserta keluarganya.

Permasalahan di atas, harus dimaknai sebagai permasalahan pers di Indonesia secara keseluruhan. Sebab bukan mustahil, masalah yang tengah dialami beberapa media termasuk Tempo ini akan berimbas kepada banyak media lainnya. Di masa mendatang, putusan-putusan yang merugikan pers ini bisa saja menjadi acuan para hakim untuk menghukum pers. Tentu ini akan menjadi hal yang sangat menakutkan. Bahkan, ini bahkan bisa menjadi lonceng kematian bagi kebebasan pers di Indonesia.

Jika tidak waspada, mungkin saja akan muncul SIUPP-SIUPP selanjutnya seperti era orde baru. seharusnya sejarah bisa mengajarkan kebijaksanaan kepoada para hakim yang memutus perkra terkait pers. Namun sepertinya, para hakim lebih berpihak kepada orang-orang besar termasuk para pengusaha yang mungkin saja lebih menguntungkan hakim-hakim itu.

Lebih jauh, fungsi pers sebagai salah satu kontrol sosial pun akan hilang. Bahkan publik akan semakin kesulitan untuk memperjuangkan hak-haknya. Negara yang seharusnya melayani dan mementingkan kepentingan umum justru mengubur kebebasan pers. Entah kepada siapa lagi rakyat negeri ini harus berharap.

Sabtu, 23 Agustus 2008

Inilah Negeriku

Kontrak minyak dan gas merugikan negara hampir mencapai ratusan trilyun (Tempo, 4 September 2008). Hal tersebut merupakan keadaan yang sangat ironis bagi bangsa ini. Di saat dewasa ini Indonesia mengalami krisis energi yang berkepanjangan, ternyata kontrak yang dilakukan terkait dengan energi justru merugikan negara sendiri. Padahal baru beberapa saat yang lalu kita dikejutkan dengan penyuapan jaksa yang mengurus kasus BLBI. Disusul “perselingkuhan” yang dilakukan Bank Indonesia dan DPR. “perselingkuhan” yang membuat BI dengan mudah mengalirkan dana ke DPR tanpa laporang serta pertanggungjawaban yang jelas. Semua peristiwa tersebut hanya memperjelas bahwa 100 tahun kebangkitan Indonesia hanyalah seremoni belaka. Sebab kondisi bangsa ini sudah sedemikian parah.

Berbicara mengenai kondisi bangsa Indonesia sekarang ini seperti membicarakan bencana yang tak kunjung usai. Dari bencana alam sampai bencana kemanusiaan semua seolah melanda tak kunjung henti. Dari perkara korupsi sampai bencana tsunami. Entah darimana harus memulainya. Sebab krisis multidmensional benar-benar sudah membuat negeri ini dalam kondisi sekarat, bahkan hampir kolaps. Rakyat dimana-mana mengalami kelaparan. Kemiskinan merajelela, sementara pejabat masih bermewah-mewah dengan kekayaannya.

Tahun 2008 ini tepat satu tahun menjelang pemilihan umum (pemilu) yang akan dilaksanakan pada 2009. Pemilu yang merupakan harapan untuk memperbaiki negeri ini, sepertinya hanya akan menjadi ajang perebutan kekuasaan belaka. Bahkan elit politik sepertinya juga sudah mulai menancapkan bendera perang. Rakyat Indonesia sudah menjadi entitas terpisah dari kekuasaan. Atau dengan kata lain, rakyat hanya menjadi kuda tunggangan untuk mendapatkan kekuasaan. Bahkan sebelum pemilu dimulai, mereka sudah sibuk berperang kata-kata, dan berkutat bagaimana cara “menjual diri”.

Lepas dari pemilu, sebenarnya banyak faktor yang dapat membuat Indonesia sebagai sebuah negara akan hancur perlahan-lahan. Yang pertama dan paling utama saat ini adalah masalah korupsi. Korupsi sudah menggerogoti bangsa ini bahkan sampai sendi-sendi yang terdalam. Sebagai contoh, jaksa yang menangani kasus BLBI pun bisa disuap. Belum lagi “perselingkuhan” BI-DPR seperti yang sudah disebutkan di awal. Ini belum ditambah dengan kasus korupsi yang dilakukan anggota DPR serta pejabat di daerah. Bahkan kasus korupsi sudah menyebar secara merata di berbagai daerah di Indonesia.

Faktor kedua adalah masalah energi. Seperti kita tahu, Indonesia adalah negeri yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA). Namun ternyata kekayaan yang kita punyai tidak mampu digunakan secara maksimal. Sebagai contoh, kenaikan harga BBM seharusnya menjadikan negeri ini untung besar. Tapi yang terjadi justru rakyat Indonesia semakin sengsara. Banyak nelayan yang tidak bisa melaut karena tidak mampu membeli solar untuk kapal mereka. Kemudian mengenai pemadaman listrik bergilir serta keluarnya SKB 5 menteri mengenai pengalihan jam kerja industri. Hal ini sebagai akibat dari kurang sigapnya pemerintah dalam mengantisipasi melonjaknya permintaan listrik. Yang terakhir tentu kasus gas tangguh dengan China. Gas milik kita dijual dengan harga yang sangat murah.

Yang ketiga adalah masalah ketahanan pangan. Sangat memalukan ketika negeri lumbung beras justru mengimpor beras. Keadaan tersebut memang mau tidak mau harus diakui saat ini. Kebijakan yang diambil pemerintah sangat tidak berpihak kepada petani-petani kecil. Harga beras yang seharusnya melonjak ketika musim panen justru menurun karena impor beras yang dilakukan pemerintah. Secara otomatis petani kecil akan mengalami kerugian yang tidak sedikit.

Sementara itu, mencari solusi atas semua permasalahan ini juga seperti mengurai benang kusut. Tidak mudah menentukan cara untuk memecahkan berbagai persoalan di atas. Tetapi setidaknya penulis memiliki beberapa solusi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Mengenai kasus korupsi yang merupakan kejahatan luar biasa, maka harus dilawan dengan perjuangan yang luar biasa pula. Semua elemen masyarakat harus ikut bergabung. Kejaksaan harus dibersihkan dari oknum-oknum yang korup. Anggota partai maupun anggota partai yang terbukti melakukan tindak korupsi juga harus dipecat. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai garda terdepan pemeberantasan korupsi tidak boleh melakukan pilih kasih, semua kasus harus diungkapkan dengan transparan. Tidak peduli itu melibatkan pejabat tinggi negara maupun tidak.

Kemudian mengenai krisis energi, kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah perlu dipertanyakan kembali. Apalagi menyangkut kontrak energi dengan pihak asing seperti gas tangguh, kemudian exxon mobil, philips di Natuna, sampai freeport di Papua. Bahkan kalau perlu pemerintah harus berani menasionalisasi aset-aset stretegis yang dikuasai oleh asing terutama di bidang energi. Atau kalau mau bersepakat dengan Amien Rais, semua kontrak harus di renegosiasi terutama freeport. Apalagi freeport nyata-nyata telah merugikan negara ini. Masalah ketahanan pangan, pemerintah harus mengambil kebijakan yang tegas. Jangan sampai mengimpor beras tapi melupakan nasib petani sendiri. Pemerintah seharusnya mengambil kebijakan yang melindungi petaninya. Beberapa persoalan di atas hanya merupakan sedikit dari banyaknya masalah yang melanda bangsa ini. Jika dibiarkan terus menerus tanpa ada solusi yang jelas bukan tidak mungkin Indonesia hanya akan menjadi sejarah.

Jika mau ditarik garis lebih jauh, inti dari semua permasalahan yang ada di Indonesia adalah krisis kepemimpinan. Kita bangsa Indonesia tidak memiliki pemimpin yang berani dan mampu melawan modal asing. Pemimpin yang ada saat ini hanya mengikuti arus dan tidak pernah memberi solusi atas permasalahan yang mendera bangsa ini.

Di sinilah dituntut peran para pemimpin muda untuk mengambil sikap tegas mengambil tongkat esatafet kepemimpinan di negeri ini. Pemimpin muda adalah mereka yang memiliki jiwa visioner dan progresif. Mereka memiliki semangat luar biasa dan keberanian yang tidak dimiliki oleh para pemimpin saat ini. Semangat yang mampu membawa Indonesia keluar dari krisis yang berkepanjangan ini.