Jumat, 26 September 2008

Ancaman Neoliberalisme..

Sekilas, pandangan bahwa banyaknya investor asing yang masuk ke Indonesia itu baik. Keadaan ekonomi akan membaik seiring dengan datangnya modal-modal asing. Kesejahteraan pun akan datang dengan sendirinya. Pemerintah Indonesia saat ini kurang labih memiliki pandangan yang sama dengan hal tersebut. Hal ini terlihat dari berbagai paket kebijakan yang intinya adalah membuka peluang seluas-luasnya agar investor asing mau menanamkan modalnya di nigeri ini. Privatisasi, liberalisasi, sampai pasar bebas menjadi hal yang sudah tidak asing di Indonesia.

Tetapi kalau mau kita lihat lebih jauh, neoliberalisme memiliki agenda yang sangat busuk di dalamnya. Agenda yang secara perlahan-lahan akan merusak dan menghancurkan bangsa ini. Agenda kaum kapitalis ini adalah menguasai perekonomian dunia. Lalu kemudian mempermainkan pasar seenaknya sendiri. Apalagi, ideologi ini mengharuskan sektor non-perdagangan dan merupakan hak rakyat sepert listrik, air dan migas dibuat dengan competition policy atau kebijakan kompetisi. Sehingga, sektor publik yang pada awalnya merupakan barang publik yang dikuasai dan dikendalikan oleh negara dibuat menjadi barang ekonomi yang harganya ditentukan oleh dinamika pasar.

Neoliberalisme selalu memandang bahwa keadaan ekonomi tidak akan optimal jika distribusi barang dan jasa serta modal tidak dikontrol oleh aturan apapun. Dengan kata lain, keadaan ekonomi akan opimal jika barang dan jasa serta modal dimiliki dan dikuasai oleh individu-individu yang memiliki tujuan untuk mencetak keuntungan pribadi yang sebesar-besarnya. Kemudian, ”Private Property” akan menjadi demikian absolut tanpa tanggungjawab apapun dari negara.

Perlahan-lahan, akan terjadi berbagai perubahan aturan dari lingkup yang lebih luas yaitu lingkup sosial menjadi sempit lingkup pribadi. Masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, kesehatan serta pengangguran yang sebelumnya membutuhkan peran besar dari negara kemudian hanya menjadi masalah pribadi saja yang hanya membutuhkan kebijakan inividu tanpa pengaruh apapun dari negara.

Neoliberalisme sendiri secara kasat mata sudah mulai menguasai Indonesia. sektor-sektor publik atau BUMN mulai diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Atau dengan kata lain, privatisasi. Maka tak heran jika sekarang banyak sekali aset-aset strategis nasional yang dikuasai bangsa asing. Dari SDA sampai bidang telekomunikasi pun sudah banyak yang menjadi milik asing. Ini tentu menjadi sebuah catatan kelam negeri ini.

Inilah Neoliberalisme. Sebuah ideologi dan sistem yang sangat jahat. Menurut Data UNDP (United Nations Development Programme), rentang antara pendapatan tertinggi dan terendah di Indonesia juga sangat lebar, karena sekitar 10 % penduduk terkaya masih menguasai sekitar 80 % aset nasional. Biaya kesehatan yang tinggi semakin memberatkan rakyat. Kriminalitas sejak tahun 1998 sampai sekarang naik 1.000 %. Di bidang pendidikan 4,5 juta anak tiap tahun putus sekolah. Fasilitas pendidikan seperti sekolah dan kelengkapannya terabaikan. Kekurangan gizi mencapai angka 8 % dari total jumlah anak balita. Kwik Kian Gie pernah melaporkan kasus di dua desa, yakni Desa Klungkung (10 kilometer dari kota Jember) dan di Gadingrejo (Juwana) yang pernah dikunjunginya semasa ia masih Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Rakyat miskin di dua desa itu hidup hanya dengan Rp 1.250 atau sekitar 0,13 dollar AS per hari per orang. Dengan pendapatan sebesar itu, mereka setiap hari hanya bisa makan dua kali, itu pun bubur sangat encer hanya dengan lauk garam. Kadang ada sayuran, tetapi kadang kala juga tidak ada. Daging tidak pernah mereka lihat. Pengangguran meningkat 1 juta orang setiap tahunnya.

Neoliberalisme memang memberlakukan semua kebutuhan hidup yang mendasar bagi hajat hidup orang banyak tak lebih dari sekadar omoditas ekonomi saja. Prinsip pasar bebas pun diterapkan dalam berbagai bidang. Terlihat dari berbagai kebijakan yang intinya adalah meliberalisasikan berbagai sektor publik. Yang paling terlihat jelas adalah sektor pendidikan. Biaya pendidikan merangkak mahal dan hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya saja. Begitu juga dengan kesehatan. Hak-hak orang miskin untuk mengakses kesehatan sangat dibatasi. Sudah terlalu sering kita mendengar banyaknya orang miskin yang sakit namun tidak pernah bisa berobat karena tidak punya biaya.

Sebagai negara berkembang, Indonesia memang akan menjadi sasaran empuk kaum neolib. Jika tidak mampu bertahan dengan kemandirian bangsa, Indonesia akan hancur perlahan-lahan di masa depan. Bagaimana tidak, saat ini saja kondisi negeri ini sudah sedemikian parah. Kemiskinan dimana-mana, kelaparan, gizi buruk serta lainnya. Pemerintah justru semakin menyengsarakan rakyat dengan berpihak kepada kaum neolib. Kebijakan di sektor energi yang carut marut membuktikan hal itu. Harga BBM dan elpiji dinaikkan. Serta masih banyak lagi contoh yang lain. Alih-alih memakmurkan rakyat, pemerintah justru memperlebar jarak antara si kaya dan si miskin.

Tetapi sebenarnya, yang patut dikhawatirkan dari neoliberalisme adalah sifatnya yang mampu menghancurkan tatanan lokal. Dengan sangat diakuinya hak-hak individu, keserakahan akan menjadi hal yang sangat dimaklumi. Mereka yang kaya akan semakin memperkaya dirinya sendiri. Dan yang miskin akan semakin sengsara. Belum lagi budaya serta adat bangsa ini akan luntur. Tidak akan lagi kita temui orang yang masih mau menolong saudaranya. Norma-norma yang selalu diajarkan sejak kecil, budi pekerti, tenggang rasa, lapang dada dan banyak lainnya akan hilang begitu saja. Setiap orang hanya akan memikirkan dirinya sendiri. Dan fakta bahwa kita pernah bersatu dan berjuang bersama-sama dalam merebut kemerdekaan negeri ini hanya akan menjadi catatan sejarah yang usang dan bahkan mungkin terlupakan.

Bangsa Indonesi sebenarnya sudah memiliki sebuah ideologi yang menjadi jatidiri bagi bangsa ini. Ideologi Pancasila. Sebuah ideologi yang merupakan manifestasi nilai-nilai luhur bangsa ini. Jika kita mau lebih konsisten dalam menjalankan ideologi ini, kita akan mampu bertahan dari derasnya berbagai ideologi yang menerjang Indonesia. Termasuk dari neoliberalisme.

Kamis, 25 September 2008

Lonceng Kematian Kebebasan Pers

Membaca putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terkait kasus Asian Agri vs Tempo sungguh memprihatinkan. Sekali lagi, pers kembali dikorbankan. Atas nama keadilan, pengadilan memutuskan bahwa majalah Tempo terbukti bersalah dengan menyerang dan melecehkan nama baik pemilik Asian Agri, Sukanto Tanoto. Pemimpin Redaksi (Pemred) Tempo kemudian diharuskan membayar denda sebesar 50 juta dan wajib meminta maaf tiga hari berturut-turut di majalah Tempo, koran Tempo, serta harian Kompas. Asian Agri sendiri melakukan gugatan setelah majalah Tempo memuat berita mengenai dugaan penggelapan pajak yang dilakukan oleh perusahaan yang bergerak di bidang agrobisnis tersebut.

Yang mengkawatirkan, putusan ini adalah yang kedua kalinya dalam 3 bulan terakhir. Juli lalu, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memenangkan gugatan perdata PT Riau Andalan Pulp and Paper atas koran Tempo. Ini tentu menjadi ancaman yang cukup serius bagi kebebasan pers di Indonesia. di saat masa transisi demokrasi seperti ini, ada kecenderungan bahwa era pembreidelan pers akan kembali lagi. Persis seperti era Orde Baru, dimana pers benar-benar dimandulkan melalui serangkaian kebijakan yang diambil oleh rezim.

Yang paling jelas terlihat pada Rancangan Undang-Undang Pemilu. Indikasi adanya pembreidelan jelas terlihat ketika ada salah satu pasal yang menyebutkan bahwa pemerintah berhak menghentikan program siaran maupun pemberitaan yang dirasakan mengganggu ketertiban umum. Ini tentu bisa menjadi langkah awal sebelum pembreidelan nanti akan benar-benar terjadi. Sebab RUU Pemilu ini jelas bertentangan dengan paradigma kebebasan pers seperti tercantum dalam Undang-Undang No 40 Tahun 1999 tentang pers.

Sarat Kejanggalan

Kemudian terkait putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terhadap majalah Tempo. Dalam putusan tersebut sangat banyak kejanggalan yang terjadi. Pertama, hakim dinilai salah mengutip dalam putusannya. Hakim menyatakan bahwa Tempo tidak melayani hak jawab selama setahun. Padahal menurut Pemred Tempo, Toriq Hadad, Asian Agri baru mengajukan hak jawab 11 bulan setelah berita itu diturunkan. Koran ini juga melayani hak jawab tersebut (koran Tempo 12 September 2008). Kedua, pertimbangan hakim bahwa suatu kasus tak bisa diberitakan sebelum berkekuatan hukum juga aneh. Ini sama saja dengan menutup akses untuk jurnalisme investigasi. Kalau memang suatu kasus tidak bisa diberitakan sebelum berkekuatan hukum, seharusnya akan banyak media massa dan televisi yang diberi sanksi. Misalnya dalam kasus korupsi. Ini tentu menjadi bukti lain bahwa hakim memakai stadar ganda dalam putusannya.

Belum lagi jika melihat fakta bahwa hakim nyaris tidak memasukkan kesaksian ahli dan fakta yang mendukung berita Tempo. Bahkan hakim menyatakan bahwa berita tersebut merupakan sebuah penghakiman oleh pers (trial by the press). Ketiga adalah mengenai kemenangan Asian Agri di pengadilan secara berturut-turut. Putusan ini adalah yang keempat kalinya bagi perusahaan milik Sukanto Tanoto tersebut. Belum lama kita ketahui bahwa Asian Agri mengalahkan Direktorat Pajak yang mengusut dugaaan penggelapan pajak Rp 1,3 Trilyun yang dilakukan perusahaan tersebut. Kemudian, seperti sudah disebutkan di atas, pengadilan memenangkan PT RAPP atas gugatan terhadap Tempo mengenai illegal loging. Belum lagi jika melihat bahwa Asian Agri menghukum Vincentius Amin Sutanto dengan 11 tahun penjara. Vincentius adalah pengawas keuangan Asian Agri yang dipecat karena membocorkan dokumen dugaan penggelapan pajak.

Ini akan menjadi sebuah preseden yang buruk bagi kebebasan pers. Kecenderungan yang terjadi selama ini adalah pers selalu dikorbankan ketika berhadapan dengan para pengusaha yang kaya. Pengusaha yang bermasalah dengan pers memakai cara dengan melakukan kriminalisasi pers. Orang-orang kaya tersebut lebih suka menggugat pers secara perdata ketimbang menggunakan hak jawab atas pemberitaan yang dimuat. Padahal mekanisme hak jawab jelas tercantum dalam pasal 5 ayat 2 UU No 40 tahun 1999 tentang pers. Sepanjang tahun 2007 sampai 2008 saja tercatat sudah banyak nama yang menjadi korban kriminalisasi pers. Diantaranya adalah majalah Time (Asia) yang divonis bersalah dalam pemberitaa dugaan kasus korupsi yang dilakukan oleh mantan presiden Soeharto beserta keluarganya.

Permasalahan di atas, harus dimaknai sebagai permasalahan pers di Indonesia secara keseluruhan. Sebab bukan mustahil, masalah yang tengah dialami beberapa media termasuk Tempo ini akan berimbas kepada banyak media lainnya. Di masa mendatang, putusan-putusan yang merugikan pers ini bisa saja menjadi acuan para hakim untuk menghukum pers. Tentu ini akan menjadi hal yang sangat menakutkan. Bahkan, ini bahkan bisa menjadi lonceng kematian bagi kebebasan pers di Indonesia.

Jika tidak waspada, mungkin saja akan muncul SIUPP-SIUPP selanjutnya seperti era orde baru. seharusnya sejarah bisa mengajarkan kebijaksanaan kepoada para hakim yang memutus perkra terkait pers. Namun sepertinya, para hakim lebih berpihak kepada orang-orang besar termasuk para pengusaha yang mungkin saja lebih menguntungkan hakim-hakim itu.

Lebih jauh, fungsi pers sebagai salah satu kontrol sosial pun akan hilang. Bahkan publik akan semakin kesulitan untuk memperjuangkan hak-haknya. Negara yang seharusnya melayani dan mementingkan kepentingan umum justru mengubur kebebasan pers. Entah kepada siapa lagi rakyat negeri ini harus berharap.

Sabtu, 23 Agustus 2008

Inilah Negeriku

Kontrak minyak dan gas merugikan negara hampir mencapai ratusan trilyun (Tempo, 4 September 2008). Hal tersebut merupakan keadaan yang sangat ironis bagi bangsa ini. Di saat dewasa ini Indonesia mengalami krisis energi yang berkepanjangan, ternyata kontrak yang dilakukan terkait dengan energi justru merugikan negara sendiri. Padahal baru beberapa saat yang lalu kita dikejutkan dengan penyuapan jaksa yang mengurus kasus BLBI. Disusul “perselingkuhan” yang dilakukan Bank Indonesia dan DPR. “perselingkuhan” yang membuat BI dengan mudah mengalirkan dana ke DPR tanpa laporang serta pertanggungjawaban yang jelas. Semua peristiwa tersebut hanya memperjelas bahwa 100 tahun kebangkitan Indonesia hanyalah seremoni belaka. Sebab kondisi bangsa ini sudah sedemikian parah.

Berbicara mengenai kondisi bangsa Indonesia sekarang ini seperti membicarakan bencana yang tak kunjung usai. Dari bencana alam sampai bencana kemanusiaan semua seolah melanda tak kunjung henti. Dari perkara korupsi sampai bencana tsunami. Entah darimana harus memulainya. Sebab krisis multidmensional benar-benar sudah membuat negeri ini dalam kondisi sekarat, bahkan hampir kolaps. Rakyat dimana-mana mengalami kelaparan. Kemiskinan merajelela, sementara pejabat masih bermewah-mewah dengan kekayaannya.

Tahun 2008 ini tepat satu tahun menjelang pemilihan umum (pemilu) yang akan dilaksanakan pada 2009. Pemilu yang merupakan harapan untuk memperbaiki negeri ini, sepertinya hanya akan menjadi ajang perebutan kekuasaan belaka. Bahkan elit politik sepertinya juga sudah mulai menancapkan bendera perang. Rakyat Indonesia sudah menjadi entitas terpisah dari kekuasaan. Atau dengan kata lain, rakyat hanya menjadi kuda tunggangan untuk mendapatkan kekuasaan. Bahkan sebelum pemilu dimulai, mereka sudah sibuk berperang kata-kata, dan berkutat bagaimana cara “menjual diri”.

Lepas dari pemilu, sebenarnya banyak faktor yang dapat membuat Indonesia sebagai sebuah negara akan hancur perlahan-lahan. Yang pertama dan paling utama saat ini adalah masalah korupsi. Korupsi sudah menggerogoti bangsa ini bahkan sampai sendi-sendi yang terdalam. Sebagai contoh, jaksa yang menangani kasus BLBI pun bisa disuap. Belum lagi “perselingkuhan” BI-DPR seperti yang sudah disebutkan di awal. Ini belum ditambah dengan kasus korupsi yang dilakukan anggota DPR serta pejabat di daerah. Bahkan kasus korupsi sudah menyebar secara merata di berbagai daerah di Indonesia.

Faktor kedua adalah masalah energi. Seperti kita tahu, Indonesia adalah negeri yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA). Namun ternyata kekayaan yang kita punyai tidak mampu digunakan secara maksimal. Sebagai contoh, kenaikan harga BBM seharusnya menjadikan negeri ini untung besar. Tapi yang terjadi justru rakyat Indonesia semakin sengsara. Banyak nelayan yang tidak bisa melaut karena tidak mampu membeli solar untuk kapal mereka. Kemudian mengenai pemadaman listrik bergilir serta keluarnya SKB 5 menteri mengenai pengalihan jam kerja industri. Hal ini sebagai akibat dari kurang sigapnya pemerintah dalam mengantisipasi melonjaknya permintaan listrik. Yang terakhir tentu kasus gas tangguh dengan China. Gas milik kita dijual dengan harga yang sangat murah.

Yang ketiga adalah masalah ketahanan pangan. Sangat memalukan ketika negeri lumbung beras justru mengimpor beras. Keadaan tersebut memang mau tidak mau harus diakui saat ini. Kebijakan yang diambil pemerintah sangat tidak berpihak kepada petani-petani kecil. Harga beras yang seharusnya melonjak ketika musim panen justru menurun karena impor beras yang dilakukan pemerintah. Secara otomatis petani kecil akan mengalami kerugian yang tidak sedikit.

Sementara itu, mencari solusi atas semua permasalahan ini juga seperti mengurai benang kusut. Tidak mudah menentukan cara untuk memecahkan berbagai persoalan di atas. Tetapi setidaknya penulis memiliki beberapa solusi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Mengenai kasus korupsi yang merupakan kejahatan luar biasa, maka harus dilawan dengan perjuangan yang luar biasa pula. Semua elemen masyarakat harus ikut bergabung. Kejaksaan harus dibersihkan dari oknum-oknum yang korup. Anggota partai maupun anggota partai yang terbukti melakukan tindak korupsi juga harus dipecat. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai garda terdepan pemeberantasan korupsi tidak boleh melakukan pilih kasih, semua kasus harus diungkapkan dengan transparan. Tidak peduli itu melibatkan pejabat tinggi negara maupun tidak.

Kemudian mengenai krisis energi, kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah perlu dipertanyakan kembali. Apalagi menyangkut kontrak energi dengan pihak asing seperti gas tangguh, kemudian exxon mobil, philips di Natuna, sampai freeport di Papua. Bahkan kalau perlu pemerintah harus berani menasionalisasi aset-aset stretegis yang dikuasai oleh asing terutama di bidang energi. Atau kalau mau bersepakat dengan Amien Rais, semua kontrak harus di renegosiasi terutama freeport. Apalagi freeport nyata-nyata telah merugikan negara ini. Masalah ketahanan pangan, pemerintah harus mengambil kebijakan yang tegas. Jangan sampai mengimpor beras tapi melupakan nasib petani sendiri. Pemerintah seharusnya mengambil kebijakan yang melindungi petaninya. Beberapa persoalan di atas hanya merupakan sedikit dari banyaknya masalah yang melanda bangsa ini. Jika dibiarkan terus menerus tanpa ada solusi yang jelas bukan tidak mungkin Indonesia hanya akan menjadi sejarah.

Jika mau ditarik garis lebih jauh, inti dari semua permasalahan yang ada di Indonesia adalah krisis kepemimpinan. Kita bangsa Indonesia tidak memiliki pemimpin yang berani dan mampu melawan modal asing. Pemimpin yang ada saat ini hanya mengikuti arus dan tidak pernah memberi solusi atas permasalahan yang mendera bangsa ini.

Di sinilah dituntut peran para pemimpin muda untuk mengambil sikap tegas mengambil tongkat esatafet kepemimpinan di negeri ini. Pemimpin muda adalah mereka yang memiliki jiwa visioner dan progresif. Mereka memiliki semangat luar biasa dan keberanian yang tidak dimiliki oleh para pemimpin saat ini. Semangat yang mampu membawa Indonesia keluar dari krisis yang berkepanjangan ini.

Sabtu, 19 Juli 2008

Menyibak Pidato Kenegaraan Presiden : Kampanye Menjelang Pemilu 2009?

Pidato kenegaraan Yudhoyono yang dilaksanakan 15 Agustus menyisakan banyak pertanyaan. Benarkah semua yang disebutkan Yudhoyono benar-benar sesuai dengan realita? Apakah semua janji-janji yang telah diucapkan akan dipenuhi? Atau jangan-jangan, isi pidato kenegaraan kemarin hanya salah satu bentuk politik citra yang dilakukan Yudhoyono untuk membuai rakyat Indonesia agar memilihnya kembali di tahun 2009 mendatang?
Isi pidato yang paling mencengangkan tentu ketika pemeritah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dalam APBN 2009. Kebijakan ini diambil setelah MK memerintahkan agar pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Melihat keadaan tersebut, dunia pendidikan patut bersyukur sebab setelah sekian lama akhirnya pendidikan menjadi prioritas utama pemerintah. Namun, banyak hal yang harus dikritisi di sini. Pertama, anggaran pendidikan ini memasukkan gaji pegawai seperti guru dan dosen di dalamnya. Keadaan ini tentu menjadi pertanyaan, bukankah anggaran hanya akan habis untuk menggaji pegawai. Kedua, dengan banyaknya gedung sekolah di Indonesia yang rusak, tentu akan banyak juga biaya untuk memperbaikinya. Menjadi satu masalah lagi, sebab yang dibangun hanya fisik sementara kualitas masih rendah. Seharusnya, gaji pegawai tidak dimasukkan ke dalam pos anggarang pendidikan. Dengan begitu, alokasi dana yang seharusnya untuk gaji pegawai bisa dialihkan untuk pembangunan gedung-gedung. Dan dana untuk perbaikan kualitas juga bisa lebih besar.
Selain anggaran pendidikan sebesar 20% APBN 2009, hal menarik lainnya dari isi pidato Yudhoyono adalah mengenai kemiskinan. Menurutnya, angka kemiskinan tahun ini adalah yang terendah baik dalam besaran maupun dalam persentasenya. Penurunan angka kemiskinan ini mungkin saja benar. Tapi jika dirunut lebih jauh, penurunan angka kemiskinan dapat terjadi karena perbedaan penggunaan metodologi dalam menentukan kriteria orang miskin. Sebagai contoh, Badan Pusat Statisitik (BPS) dulu memasukkan orang yang bekerja serabutan sebagai orang yang tidak berpenghasilan dan kemudian dianggap sebagai orang miskin. Namun sekarang, orang yang bekerja serabutan dianggap memiliki pekerjaan. Sehingga status miskin pun tidak layak disandangnya. Penulis dalam hal ini beranggapan bahwa BPS memberikan data kepada SBY hanya berdasarkan “asal bapak senang”.
Melihat pidato kenegaraan Yudhoyono ini jelas sekali terlihat politik citra yang coba dipertahankan di tengah keterpurukan yang tengah melanda sang presiden. Dan sebelum menarik simpati rakyat, sepertinya Yudhoyono sudah berhasil menarik simpati anggota DPR/MPR yang hadir di gedung DPR/MPR ketika itu. Terlihat jelas dari 58 tepuk tangan (kompas, 16 Agustus 2008) yang diberikan selama pidato Yudhoyono berlangsung. Beberapa elite parpol pendukung pemerintah juga tidak ketinggalan ikut memberikan suaranya. Seperti ungkapan Priyo Budi Santoso, ketua fraksi partai golkar ini mengatakan bahwa pidato presiden sungguh luar biasa. Hal itu juga diamini oleh ketua Fraksi Partai Demokrat yang mengungkapkan bahwa dari pidato presiden jelas kelihatan berbagai kemajuan yang dicapai bangsa ini selama 4 tahun kepempinan beliau.
Tapi seperti biasa, politik citra bukanlah lagu baru. Itu adalah lagu lama yang selalu diulang-ulang. Apalagi di masa pemerintahan SBY-JK ini. Menjelang 2009, semua upaya akan dilakukan untuk kembali menduduki puncak kekuasaan. Dari mulai pidato kenegaraan yang menarik simpati para guru, sampai menarik simpati rakyat miskin. Hal ini pernah dilakukan tahun 2004. dimana ketika itu Yudhoyono dengan bermodalkan iklan dan jargon “bersama kita bisa “ berhasil menarik hampir sebagian besar rakyat Indonesia untuk memilihnya menjadi Presiden.
Mungkin Yudhoyono lupa, rakyatnya sudah tidak butuh janji-janji lagi. Rakyatnya sudah tidak butuh laporan-laporan yang sepertinya mengungkapkan keberhasilan presiden tapi ternyata realitanya jauh berbeda. Rakyat Indonesia sudah sangat muak melihat korupsi yang melanda hampir seluruh pejabat. DPR-Bank Indonesia “berselingkuh” dengan kurang ajar. Aliran uang lancar tanpa ada tanda terima dan laporang yang jelas. Meminjam ungkapan shakspeare, kill all the lawyer. Di Indonesia, sepertinya ungkapan tadi harus diganti kill all the politicians. Tentu bukan dalam arti yang sebenarnya.
Sebagai kesimpulan, penulis bersepakat bahwa Yudhoyono sungguh luar biasa dalam menyampaikan pidato kenegaraan. Cara menarik simpati dari orang lain juga bagus. Bagaimana dia menyeka keringat, mengambil air minum, beristirahat sejenak seperti menunjukkan sebuah pesan. Seolah pesan tersebut berbunyi : Presiden juga manusia, jadi tolong jangan timpakan semua kesalahan kepada saya. Bukan salah saya kalau ternyata takdir negara kita adalah menjadi negara miskin!

Jumat, 11 Juli 2008

Mempertanyakan Masa Depan

Masa lalu adalah kenangan, hari esok adalah misteri , dan saat ini adalah anugerah, begitu kata orang bijak. Ya, saat ini adalah anugerah. Anugerah luar biasa yang telah dianugerahkan Sang Pencipta kepada makhlukNya. Anugerah yang sudah selayaknya kita syukuri, apapun itu.
Bicara masa depan, menurutku, adalah membicarakan manifestasi apa yang telah kita lakukan di masa lalu dan saat ini. Atau dengan kata lain, apapun yang telah kita lakukan di masa lalu, akan menentukan nasib kita sendiri di masa depan. Siapa menabur benih, dia akan menuai. Siapa menyiapkan masa depannya dengan rapi, dia akan mendapatkannya. Sementara itu, siapa menyiapkan masa depan dengan sembarangan tentu dia tidak akan mendapat apa-apa. Tentu, pengecualian bagi orang yang memiliki keberuntungan. Sebab orang yang memiliki keberuntungan biasanya akan memperoleh masa depan yang lebih baik.
SD, aku mendapat NEM 40,55. Nilai tersebut membawaku masuk ke SMP 3 Ungaran. Sekolah kecil di pinggir sawah yang penuh dengan kenangan. Aku tidak lupa, bahwa aku pernah menangis tidak mau bersekolah di SMP 3. Namun, Allah menyuruhku belajar di SMP 3 untuk memenuhi takdirku sendiri. 3 tahun cepat berlalu. Aku keluar dari SMP 3 dengan nilai yang menurutku cukup memuaskan, 24, 21. Allah kemudian menyuruhku belajar di SMA 1 Ungaran. Sebuah SMA favorit di kota kecil Ungaran. Di SMA ini aku diajari banyak hal. Bersahabat, berorganisasi, bahkan juga tentang cinta. Menjadi ketua OSIS, ya, setidaknya aku pernah memimpin 900 anak lebih. Pengalaman hebat tentu. Unforgetable memories, begitu kata fariz, sahabatku.
3 tahun di SMA ternyata juga cepat sekali berlalu. Aku dipaksa harus berpisah dengan orang yang, ketika itu, sangat aku sayangi. Aku harus meneruskan belajar di Jogja, di UGM, salah satu universitas terbesar dan terbaik di negeri ini. Sebuah ujian yang sangat berat tentang cinta. Semoga aku bisa menghadapinya. Dan aku yakin bisa melewatinya. Namun, harapan tinggal harapan. Di Jogja, aku dikenalkan dengan kehidupan yang tidak pernah aku jalani sebelumnya. Aku pikir, Jogja akan bersikap ramah terhadapku. Tentu karena di dalam darahku mengalir kencang darah jogja. Ya , Bapak Ibu asli Gunungkidul. Tapi ternyata tidak. Aku dihajar habis-habisan, mental maupun fisik.
Aku diajari tentang kehidupan. Ilmu yang sebelumnya tidak pernah aku pelajari di Ungaran. Bagaimana hidup sendiri, mencuci sendiri, makan sendiri. Susah memang awalnya. Tapi kini sudah terbiasa. Ya, sudah sangat biasa.
Kuliah ternyata susah. Bukan masalah akademik. Tapi masalah bagaimana kita akan menyiapkan masa depan kita sendiri. Dari situ aku mulai meutuskan untuk masuk di organisasi. Untuk menyiapkan masa depan tentu. Kenapa aku memilih Balairung, kenapa aku memilih BEM KM, ada alasannya. Balairung adalah salah satu kawah candradimuka pers mahasiswa yang terbaik di Indonesia. Sejarah Balairung hampir sama tuanya dengan sejarah rezim Orde Baru. Aku ingin menjadi seorang wartawan. Cita-citaku, yang sedikit banyak dipengaruhi mas Furry. Karena itu aku memutuskan masuk ke Balairung. Semoga berguna. Amin.
Kenapa aku memilih BEM KM? Pada awalnya aku hanya ingin meneruskan hobbiku berorganisasi. Dengan latar belakang sebagai ketua OSIS, tentu jiwaku sudah berisi dengan organisasi. Tapi ketika beberapa bulan aku bergabung dengan BEM KM, ada yang lebih besar dari itu. Rakyat Indonesia masih menderita. Jutaan orang yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Tapi di sisi lain, dengan enaknya seorang pejabat mengambil uang mereka. Jelas keadilan belum ditegakkan di negeri ini. Negeri ini hanya digunakan sebagai mainan oleh elite politik. Rakyat hanya dibutuhkan ketika mereka butuh suara di pemilihan umum. Setelah, rakyat pasti akan ditindas.
Sejarah negeri ini adalah sejarah tentang penindasan. 350 tahun kita dijajaha Belanda. 3,5 tahun dijajah Jepang. Tahun 1945 kita merdeka, tapi tentu kita masih miskin. Hampir 20 tahun pemerintahan Soekarno pun belum bisa menghasilkan perubahan yang signifikan. Justru terjadi pembunuhan besar-besaran pasca tragedi berdarah September 1965. Di Bawah Soeharto adalah salah satu episode terkelam dalam sejarah republik ini. Beberapa tahun Soeharto memimpin, tidak dapat kita pungkiri banyak kemajuan pembangunan yang dicapai. Namun setelah itu, KKN merajalela. Korupsi dimana-mana sementara rakyat dibiarkan menderita. Bahkan gerakan mahasiswa pun dibungkam. Tidak boleh ada yang bersuara.
Reformasi 1998 memberi harapan baru kepada rakyat Indonesia. Tapi ternyata sama saja. Reformasi hanya sebatas penumbangan Soeharto. Tidak lebih. Nyatanya sampai sekarang rakyat Indonesia masih banyak yang menderita. Habibie, Gus Dur, Megawati sampai SBY, semua sama saja. Semua tunduk di bawah kepentingan asing. Tidak ada yang berani melawan. Habibie melepas Timor Timur, Mega menjual asset-aset Negara kepada asing, dan SBY bahkan 2 kali menaikkan harga BBM. Apakah Indonesia, negeri dengan lebih dari 200 juta jiwa penduduk ini tidak mampu lagi melahirkan para pemimpin besar yang berpihak kepada rakyat? Tidak adakah lagi Soekarno baru, Hatta, Natsir, Tan Malaka atau bahkan Soe Hok Gie?
Kemudian aku memutuskan untuk ikut berjuang bersama rekan-rekan yang lain. Hanya 3 % dari lebih dari 200 juta jiwa penduduk Indonesia yang mampu mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Karena itulah, mahasiswa sebenarnya menanggung beban yang sangat berat. Sebab di belakangnya terletak nasib rakyat Indonesia. Sejak saat itu aku semakin yakin untuk mengambil peranku sebagai seorang mahasiswa. Seorang mahasiswa yang mempunyai kontrol sosial terhadap jalannya kehidupan Negara. Mahasiswa hari ini tidak hanya dituntut secara akademis, tapi juga tanggung jawab sosial terhadap masyarakat. Karena kita adalah calon pemimpin bangsa nanti
Masuk Departemen Aksi dan Propaganda, demonstrasi tentu kegiatan yang biasa aku lakukan. Nyatanya memang kebijakan-kebijakan SBY masih banyak yang tidak berpihak kepada rakyat Indonesia. 2 kali menaikkan harga BBM, menjual hutan seharga pisang goring, menjual asset-aset Negara kepada asing tentu menjadi rapor merah pemerintahan SBY-JK ini. Kasus Lumpur Lapindo pun tidak mampu diselesaikan. Justru kasus tersebut dipolitisasi.
Tidak hanya isu politik nasional, rektorat UGM pun sangat menyebalkan. Bagaimana mungkin mereka bisa menghalangi orang yang tidak punya biaya dan ingin masuk UGM? Bahkan dengan mudahnya salah seorang pejabat di rektorat bilang, kalau tidak punya biaya tidak usah kuliah. Menyakitkan sekali. Semoga dosa-dosa kita diampuni Allah. Amin. Semakin membuat semangatku untuk berjuang semakin tinggi.
Evaluasi sebelum semester 3. di semester awal nilai IP ku 3, 36. sementara di tahun semester dua IP ku turun menjadi 3,09. Catatan yang sangat jelek. Tapi aku merasa itu bukan karena aku tidak bisa. Itu hanya karena aku malas. Malas mengumpulkan tugas. Terlalu asik dengan demonstrasi. Tapi ternyata itu salah, mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang sukses secara akademis dan mampu menjalankan fungsi sosial yang dimiliki. Semester 3 besok harus lebih baik. Aku janji.
Mempertanyakan masa depan. Siapa yang tahu masa depan ku? Mungkin aku jadi direktur media di Indonesia, atau mungkin aku hanya akan jadi tukang sapu di taman. Aku tidak terlalu peduli. Sekarang aku cuma ingin berusaha menjalani peranku sebagai seorang mahasiswa. Aku ikhlas menjadi apapun nanti. Aku ikhlas.

Rabu, 16 Januari 2008

aksi solidaritas untuk korban bencana


minggu 13 january 2007, puluhan aktivis mahasiswa dari BEM KM UGM mengadakan aksi solidaritas penggalangan dana bagi korban bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di indonesia. Aksi solidaritas tersebut diadakan sebagai salah satu bentuk kepedulian mahasiswa terhadap saudara-saudara sebangsa yang sedang ditimpa musibah. Mengambil momentum acara sunday morning yang memang diadakan setiap minggu di ugm, para mahasiswa berkeliling mengedarkan kotak amal. "kita adalah satu, dan saudara akan membantu saudaranya yang sedang tertimpa bencana", begitu kata unggul(sejarah 05) sebagai koordinator aksi solidaritas tersebut. "meskipun sederhana, namun aksi ini akan terus kita lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap korban bencana", lanjutnya.

Kamis, 03 Januari 2008

football without frontiers..


2007 udah lewat, tinggal menjadi kenangan tak terlupakan. Dan sekarang harus menatap ke depan dengan penuh optimisme menghadapi semua tantangan yang pasti akan aku temui selama 2008 ini. Sebab masa lalu telah memberikan begitu banyak pelajaran sehingga kita harus berani melangkah ke depan. Ada begitu banyak uneg-uneg tentang harapan di 2008, tapi akan aku mulai dari olahraga, salah satu favoritku. Yang pertama tentu dari sepakbola. Dari Liga Inggris, tentu the red devils manchester united layak menjadi juara lagi pada musim ini. Kombinasi antara pelatih senior Sir Alex Ferguson dengan kematangan yang mulai diperlihatkan oleh para pemain seperti Wayne Rooney, Carlos Tevez, dan yang pasti Christiano Ronaldo masih akan menjadi kekuatan yang masih sulit ditandingi. Meskipun Arsenal dengan pasukan mudanya masih terlihat hebat, namun karena masih minim pengalaman mereka akan rontok mendekati akhir musim. Begitu juga dengan chelsea dan liverpool. Kedua tim ini masih menunjukkan inkonsistensi permainan terutama liverpool. chelsea mungkin akan lebih berpeluang menjuarai piala carling. Beralih ke liga italia. Hegemoni inter milan musim ini masih sulit diruntuhkan, apalagi bila melihat performa tim nerazzuri di putaran pertama musim ini. Tidak pernah kalah, bahkan mengalahkan lawan-lawan yang selama ini secara tradisi menjadi musuhnya. Diantara yaitu inter pernah mengalahkan ac milan, as roma , fiorentina. Yang lebih hebat, semua itu dilakukan di kandang lawan. Apabila cedera pemain yang terus melanda inter tidak terus terjadi, inter milan akan merebut scudetto tahun ini. Ke liga spanyol, konflik internal yang melanda barcelona sampai saat ini akan melapangkan jalan real madrid untuk menjadi juara la liga di akhir musim. Situasi yang kurang harmonis dimana ronaldinho sekarang sering dicemooh publik camp nou, kemudian posisi frank rijkard yang rawan pemecatan berbanding terbalik dengan kondisi di real madrid yang justru semakin solid dengan hubungan kekeluargaan antar pemain. Sementara itu di bundesliga jerman, bayern muenchen aku pikir akan kembali menjadi juara setelah pembelian besar-besaran musim ini. Kolaborasi frank ribery, luca toni serta bomber tim nasional jerman miroslav klose menjadi monster yang menakutkan bagi lawan-lawannya. Terbukti sampai pertengahan musim ini dimana luca toni dan klose bersandingan duduk di puncak teratas top scorer. Ajax Amsterdam akan menjadi kampione eredivisie liga belanda musim ini. apabila mereka berhasil menemukan konsistensi permainan. Dominasi psv eindhoven selama 3 tahun akan terpatahkan. Apalagi pemain andalan psv, kenneth perez justru kembali bergabung dengan the amsterdammers. Di le championate prancis, hegemoni olimpique lyon selama 6 tahun terakhir belum akan berakhir. Lyon akan menjadi juara untuk yang ke 7 kalinya tahun ini. Sebuah pencapaian yang sungguh luar biasa. Kemudian ke kompetisi antarklub paling bergengsi di eropa, liga champion. Sungguh sulit untuk menentukan sipa yang akan keluar menjadi juara pada musim ini. Sebab kekuatan semua klub sekarang relatif seimbang. Tapi ada 3 nama yang layak menjadi terdepan. Pertama yaitu manchester united, kekuatan yang lebih matang dibanding tahun lalu akan membawa MU menjadi calon terkuat juara. Apalagi ditambah dengan tenaga carlos tevez, owen hargreaves serta carlos nani akan menambah kekuatan MU dimana christiano ronaldo dan wayne rooney juga semakin bertambah matang. Pengalaman ac milan di liga terelite di eropa ini tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Milan adalah tim yang aneh, meski di dalam negeri mereka terseok-seok di papan tengah, namun jangan lupa, mereka adalah juara dunia tahun 2007. Tim ketiga yang menurutku berpeluang besar menjadi juara di liga tahun ini adalah inter milan. Namun itu dengan catatan mereka mampu mengalahkan liverpool di 16 besar. Sekali lagi, manchester united memiliki peluang paling besar untuk menjadi juara. sedangkan di piala uefa, bayern muenchen memiliki peluang terbesar untuk menjuarainya. Lawan terberat akan datang dari atletico madrid, villareal, totenham dan fiorentina. Sekali lagi, ini bukan ramalan 2008, tapi cuma sekedar tebakan seorang penggemar sepakbola, hehehe. Oh iya, selamat tahun baru 2008.. semoga harapan-harapan kita dapat tercapai..